Ditumpangi Hantu Berwujud Perempuan Cantik Berambut Panjang di Kelok Sembilan

photo author
Evi Endri, Riau Satu
- Rabu, 7 September 2022 | 16:07 WIB
Kelok Sembilan. (f: internet)
Kelok Sembilan. (f: internet)

DI balik kemegahan arsitektur Jembatan Layang Kelok Sembilan, ternyata menyimpan sebuah misteri tersendiri: kawasan itu dihuni hantu berupa seorang perempuan cantik berambut panjang. Saya pernah “memboncenginya.”

Kalaulah tak perlu-perlu amat, saya tidak akan menunggangi sepeda motor di waktu malam, apalagi dengan jarak tempuh yang cukup jauh. Maklum, saya baru bisa mengendarai sepeda motor setelah berusia di atas 45 tahun, wajar banyak gamangnya. Kalau pun terpaksa, paling banter saya menunggangi motor waktu malam dengan jarak tempuh 3 sampai 5 km. Itu pun hanya mutar-mutar di dalam kampung.

Tapi malam itu saya mesti berangkat ke ibukota kabupaten, yang berjarak sekitar 40 km dari kampung saya. Diterima kabar bahwa adik saya –seorang perempuan, yang posisinya di keluarga pas di bawah saya dari lima orang kami bersaudara kandung—lagi jatuh sakit, dan dilarikan ke rumah sakit di ibukota kabupaten. Adik saya itu menetap di ibukota kabupaten lantaran ikut suaminya yang mencari nafkah di sana.

Berita itu diterima mendekati pukul 24.00 WIB.Saya harus berangkat, itu sudah pasti. Maklum, di antara lima orang kami saudara, hanya yang sakit itu satu-satunya yang perempuan.

Berangkat dengan apa? Kalau naik angkutan umum, kendati yang dilewati ruas jalan Sumbar-Riau yang tergolong ramai dan sibuk, jelas tidak lagi memungkinkan karena sudah jarang bus yang lewat. Kalau pun ada bus yang bisa ditumpangi, yang jadi masalah adalah jam berapa bisa berangkat, sementara saat itu perjalanan waktu satu detik saja terasa sudah sangat lambat.

Apa boleh buat, satu-satunya cara untuk bisa sampai di ibukota kabupaten adalah dengan menunggangi sepeda motor saya, bermerek Honda Supra Fit keluaran tahun 2005.Yang menjadi masalah, selain kondisi sepeda motor yang tak lagi bisa disebut fit, apa saya berani menaiki sepeda motor di tengah malam dengan jarak tempuh yang cukup jauh? Seumur-umur, jangankan malam hari, siang pun belum pernah saya menunggangi sepeda motor sendirian menuju ibukota kabupaten.

Sebelumnya, saya sudah mencoba menghubungi beberapa kerabat dan teman, meminta kesediaannya menemani saya ke ibukota kabupaten dengan sepeda motor. Beberapa di antaranya bahkan saya janjikan akan diberikan uang rokok. Tapi malangnya, tak seorang pun yang berkenan.

Oleh karena kondisi yang sedang kepepet, pada akhirnya rasa takut itu saya coba buang jauh-jauh. “Kalau orang lain bisa, kenapa saya tidak?” kata hati saya. Saya kuatkan mental untuk melakukan apa yang selama ini belum pernah saya perbuat. “Apa pun yang terjadi, saya harus sampai malam ini juga di rumah sakit,” kata hati saya lagi. Berbagai bayangan yang tidak baik tentang kondisi si adik, kian membulatkan tekad saya melakukan perjalanan yang tak biasa.

Dengan dibalut jaket lusuh, malam itu juga, sekitar pukul 00.31 WIB, saya menstarter motor butut itu untuk bertolak ke ibukota kabupaten sendirian. Beruntung, cuaca malam itu cukup mendukung. Tebaran bintang tampak memenuhi langit. Tidak tampak tanda-tanda sedikit pun hujan akan turun. Arus lalu-lintas juga tidak terlalu ramai.

Karena tak biasa mengemudikan sepeda motor dengan kecepatan tinggi, laju kendaraan saya hanya sedikit di atas orang berjalan kaki, saking lambatnya. Begitu pun setelah memasuki kawasan Jembatan Kelok Sembilan, motor yang saya tunggangi jalannya pelaaan sangat.

Jembatan Layang Kelok Sembilan yang berlokasi di Kecamatan Harau, Kabupaten Limapuluh Kota, Provinsi Sumatera Barat, merupakan jembatan layang termegah di Provinsi Sumatera Barat, yang mulai dibangun di era Presiden Megawati Soekarnoputeri. Keberadaan jembatan ini untuk mendukung jalan Kelok Sembilan lama yang sempit, yang memicu sering terjadinya kemacetan.

Pembangunan jembatan layang yang kabarnya menelan anggaran sekitar Rp600 miliar itu tidak dengan meruntuhkan jalan yang lama. Jalan Kelok Sembilan yang lama tetap ada, sementara jalan layang dibangun di sampingnya. Para pengguna jalan silahkan saja memilih di antara dua alternatif yang ada, baik melewati jalan Kelok Sembilan atau Jembatan Layang Kelok Sembilan.
Saya memilih melewati jalan Kelok Sembilan saja, karena jarang pengendara yang memanfaatkan ruas jalan itu.

Ketika sudah sekitar separoh jalan Kelok Sembilan dilewati, pada sebuah titik seusai melewati sebuah jembatan kecil, mata saya tertuju pada sebuah pemandangan berupa seorang perempuan berdiri di sisi kanan jalan. Rambutnya panjang, tergerai sampai menjangkau lutut. Sebuah tas kecil tampak tertenteng di bahu sebelah kirinya.

Raut mukanya tidak terlihat jelas, karena ia berdiri dengan posisi membelakang ke arah badan jalan.
Belum sempat saya berpikir panjang, tiba-tiba badan perempuan itu tampak seakan bergerak ke arah badan jalan, yang membuat posisi saya dengannya kian dekat. Lalu, tangan kanannya tampak ia gerakkan, seperti minta ditumpangi.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Evi Endri

Tags

Rekomendasi

Terkini

Pasbar di Sumbar Diguncang Gempa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 11:40 WIB

Masih Dibuka, Rekrutmen Bintara PK Pria TNI AL

Jumat, 17 Juli 2026 | 16:25 WIB

BMKG: Waspada Hujan Lebat di Sebagian Besar Riau

Kamis, 16 Juli 2026 | 09:23 WIB

BMKG: Cuaca Riau Hari Ini Relatif Kondusif

Selasa, 14 Juli 2026 | 09:00 WIB
X