Suami Eli, yang bekerja sebagai buruh serabutan, harus menempuh perjalanan lebih dari 30 menit untuk mencapai lokasi kerja lamanya.
"Jaraknya jauh, butuh biaya bensin lebih. Kadang suami terpaksa pulang dua hari sekali untuk menghemat ongkos," tutur Eli sambil menyeka sudut matanya.
Di usia senjanya, Eli tidak meminta kemewahan. Ia hanya merindukan rasa aman yang dulu ia bangun dengan kesabaran. Harapan utamanya saat ini hanyalah memiliki rumah sendiri yang permanen.
Meski sederhana, baginya di sana dirinya bersama keluarga akan menata kembali kepingan mimpi yang hanyut dibawa arus sungai.
Bagi Eli, huntara hanyalah tempat transit. Harapan besarnya masih tertinggal di dasar Sungai Batang Anai, menunggu keajaiban atau uluran tangan yang mampu membantunya tegak kembali.***