Saat Sungai Batang Anai 'Menelan' Peluh Keringat Eli: Rumah dari Hasil Menabung Bertahun-tahun Lenyap dalam Sekejap

photo author
Evi Endri, Riau Satu
- Rabu, 18 Februari 2026 | 10:48 WIB
Eli hermita penyintas bencana sumatera di Padang Pariaman, Sumatera Barat saat ditemui di hunian sementara, Selasa (17/2/2026). (f. kompas.com)
Eli hermita penyintas bencana sumatera di Padang Pariaman, Sumatera Barat saat ditemui di hunian sementara, Selasa (17/2/2026). (f. kompas.com)

 

PADANG PARIAMAN, RIAUSATU.COM - Bagi Eli Hermita (56), tahun 2026 seharusnya menjadi tahun yang bersejarah dan penuh sukacita. Tahun di mana ia dan suaminya berencana melangkah masuk ke rumah impian yang mereka bangun dari tabungan rupiah demi rupiah selama belasan tahun.

Namun, takdir berkata lain. Garis hidupnya berubah total dalam semalam.

Kini, bukan kunci rumah baru yang ia genggam, melainkan kenangan pahit tentang bagaimana Sungai Batang Anai menelan seluruh peluh keringatnya.

Bencana hidrometeorologi yang menghantam Padang Pariaman pada November 2025 lalu menjadi momen kelam bagi harapan Eli.

Erosi sungai yang ganas meluluhlantakkan bangunan sederhana di Kampung Cino, Talao Mundan, Kecamatan Batang Anai.

Bangunan yang dia rintis dengan peluh dan harapan selama bertahun-tahun lamanya.

"Semuanya habis. Yang tersisa hanya baju di badan dan kendaraan. Sisanya, masuk ke dasar sungai," kenang Eli dengan suara serak saat ditemui di hunian sementara (huntara), Selasa (17/2/2026), dilansir kompas.com

Tidak ada puing yang tersisa. Rumah itu hilang sepenuhnya, seolah-olah tidak pernah berdiri di sana.

Bersama suami, dua anak, dan seorang cucunya, Eli terpaksa menelan kenyataan pahit sebagai tunawisma.

Setelah berbulan-bulan bertahan di bawah terpal tenda darurat yang sesak dan panas, Eli kini sedikit bernapas lega setelah pihak pemerintah meresmikan huntara sebagai tempat bernaung sementara.

Meski begitu, tinggal di bilik berukuran 4 x 4 meter untuk lima jiwa bukanlah perkara mudah. Di ruangan sempit itulah, air mata Eli sering jatuh dengan sendiri.

Dia berujar, sudah tiga minggu terakhir sejak ia dan keluarga menempati huntara, kenangan soal rumah, lingkungan sosial, dan sekaligus tempat suaminya mencari nafkah terus terngiang.

Meski di huntara kondisinya jauh lebih layak dibanding tenda pengungsian yang harus berbagi dengan puluhan jiwa, tinggal di rumah sendiri bersama dengan komunitas adat yang telah terjalin bertahun-tahun tetaplah harapan terindah.

Meski telah mencoba mengikhlaskan apa yang telah hilang, masalah baru muncul. Letak huntara yang aman dari sungai justru jauh dari ladang ekonomi.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Evi Endri

Tags

Rekomendasi

Terkini

Pasbar di Sumbar Diguncang Gempa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 11:40 WIB

Masih Dibuka, Rekrutmen Bintara PK Pria TNI AL

Jumat, 17 Juli 2026 | 16:25 WIB

BMKG: Waspada Hujan Lebat di Sebagian Besar Riau

Kamis, 16 Juli 2026 | 09:23 WIB

BMKG: Cuaca Riau Hari Ini Relatif Kondusif

Selasa, 14 Juli 2026 | 09:00 WIB
X