Data internal yang diperoleh media siber ini menunjukkan, sebagian besar tanah terkontaminasi minyak di Blok Rokan belum mengalami proses remediasi penuh.
Seorang pejabat lingkungan hidup di Riau yang enggan disebutkan namanya mengatakan, banyak kolam limbah yang tidak terdokumentasi dengan baik.
"Ada ratusan lokasi yang semestinya dipulihkan, tapi sebagian besar masih dibiarkan begitu saja," katanya.
Kini, kematian dua balita itu membuka kembali tabir gelap pengelolaan limbah di Blok Rokan. Bagi warga, kolam-kolam itu tak ubahnya ranjau yang bisa merenggut nyawa kapan saja.
"Ini bukan sekadar soal kelalaian," kata Andhi. "Ini soal hak hidup manusia yang direnggut karena keserakahan dan pembiaran."
Riau Satu terus menelusuri bagaimana dana pemulihan itu dikelola, siapa yang bertanggung jawab, dan mengapa proyek besar remediasi Blok Rokan seolah-olah lenyap di balik setumpuk laporan administrasi. ***