"Target membuat berita sebanyak mungkin sebagai ukuran keberhasilan seeorang reporter. Kondisi ini membuat reporter memilih jalan mudah dalam mencari berita dengan mengutip informasi dari media sosial pesohor atau selebritas atau situs pribadi, klub, lembaga," paparnya.
Akibatnya, kata Hendry, reporter jadi malas ke lapangan, karena selain menghemat tenaga, saat ini informasi apapun, sudah tersebar di media sosial.
Saat ini, kata dia, wartawan sudah berubah menjadi content creator, mengkreasi berita dari mana saja tanpa harus bertemu narasumber dan berkeringan ke lapangan.
"Dulu apa yang dimuat, disiarkan, media massa dikutip dan disebarkan oleh media sosial. Saat ini apa yang dimuat media sosial, viral, malah menjadi sumber informasi bagi media massa," ucapnya.
Lebih jauh, Hendry, menyampaikan, ketidakadilan yang terjadi pada media, akibat dominasi platform global, menyebabkan pendapatan semua jenis media berkurang drastis dalam lima tahun terakhir.
Menurutnya, saat ini beriklan di media sosial lebih murah dan lebih menjangkau dibanding dengan media massa, dan sampaikan kapanpun tidak akan kembali ke masa jaya tahun-tahun sebelumnya.
"Masalah ini menjadi tanggungjawab bersama dari masyarakat pers dibantu pemerintah untuk mengurangi peran platform global lewat Publisher’s Right, mungkin sedikit meringankan beban media, tapi belum menyentuh akar masalah," pungkasnya. ***