JAKARTA, RIAUSATU.COM – Kejaksaan Agung telah menangkap sembilan tersangka dalam kasus dugaan korupsi BBM di Pertamina, dengan estimasi kerugian negara mencapai Rp193 triliun pada 2023.
Isu ini memicu reaksi keras di masyarakat, terutama di media sosial, yang banyak mengkritik para pelaku dan mempertanyakan kredibilitas Pertamina sebagai institusi. Bahkan, muncul ajakan untuk beralih ke produk lain.
Meskipun Jaksa Agung telah menegaskan bahwa BBM yang beredar saat ini sudah sesuai dengan regulasi, dampak dari skandal ini diprediksi meluas, terutama dalam jangka panjang.
Mantan Direktur Kilang Pertamina, Suroso A., dalam wawancaranya dengan Center of Energy and Resources Indonesia (CERI), mengungkapkan bahwa isu ini dapat mengubah lanskap pasar energi di Indonesia.
Dampak Ekonomi dan Kepercayaan Investor
Suroso menilai momen ini menjadi peluang bagi merek lain untuk memperluas pasar mereka. Selain itu, angka dugaan kerugian yang disebut-sebut bisa mencapai Rp1.000 triliun berpotensi menimbulkan pertanyaan besar dari para pemegang obligasi serta investor asing.
"Tingkat kepercayaan investor dan lembaga keuangan global akan menurun. Akibatnya, Pertamina akan menghadapi tantangan besar dalam mendapatkan pendanaan untuk operasional dan pengembangan bisnis," ujar Suroso.
Ia juga menyoroti bahwa isu ini muncul bertepatan dengan jadwal rilis laporan keuangan hasil audit independen yang seharusnya menjadi dasar bagi Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).
Risiko Hukum dan Potensi Gugatan
Selain dampak keuangan, Suroso menyoroti risiko hukum yang dihadapi Pertamina, terutama jika terbukti ada praktik kecurangan dalam distribusi BBM selama lima tahun terakhir.
"Jika pengadilan memutuskan ada unsur penipuan, konsumen dapat mengajukan gugatan class action untuk menuntut ganti rugi. Bahkan, dalam kasus pemalsuan barang, perusahaan dapat menghadapi kemungkinan penutupan," jelasnya, merujuk pada Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen.
Tantangan Operasional dan Keputusan Strategis
Menurut Suroso, skandal ini juga memengaruhi strategi bisnis Pertamina ke depan. Investor akan mempertimbangkan berbagai risiko sebelum menjalin kerja sama lebih lanjut.
Selain itu, kredibilitas Pertamina dalam pembelian minyak mentah dan BBM di pasar global juga dapat terpengaruh, terutama dalam proses pembukaan Letter of Credit (LC) yang bergantung pada reputasi perusahaan.