PEKANBARU, RIAUSATU.COM — Di atas kertas, awalnya proyek pemasangan pipa minyak Blok Rokan milik Pertamina Hulu Rokan (PHR) digadang-gadang menjadi penopang kedaulatan energi nasional.
Pipa sepanjang 342 kilometer, membentang dari Minas–Duri–Dumai hingga Balam–Bangko–Dumai, diproyeksikan menyalurkan minyak mentah dengan aman dan efisien.
Nilai investasinya tidak main-main, sekitar USD 300 juta atau lebih dari Rp4,6 triliun.
Namun, di balik seremoni peresmian pada Februari 2022, BPKP Riau menemukan kenyataan berbeda.
Audit lembaga itu pada 2023 menyebut proyek yang dikerjakan konsorsium EPC PT Pgasol dengan PT Pertamina Driling Contractor (PDC) atas investasi PT Pertamina Gas anak usaha PT PGN Tbk dengan PT Rukun Raharja Tbk (RAJA) menyisakan masalah serius: sejumlah jalur pipa tidak berfungsi, bahkan ada yang tumpang tindih dengan pipa lama peninggalan PT Chevron Pacific Indonesia (CPI).
Potensi kerugian negara ditaksir mencapai Rp3,3 triliun.
Alur Proyek
Proyek ini dimulai pada 2019, setelah pemerintah menetapkan alih kelola Blok Rokan dari Chevron ke Pertamina.
Menteri ESDM Ignatius Jonan saat itu menugaskan PT Pertamina (Persero) untuk membangun pipa minyak Blok Rokan untuk menggantikan pipa yang lebih 50 tahun sudah dipasang oleh PT Chevron Pasifik Indonesia.
Oleh Direktur Utama Pertamina saat itu, Nicke Widyawati, penugasan itu dilimpahkan kepada PT Pertamina Gas Negara Tbk (PGN Tbk), kemudian oleh PT PGN Tbk era Gigih Prakoso telah menugaskan kepada anak usahanya PT Pertamina Gas (Pertagas) untuk membangun dengan membuka skema mitra investasi 25 % kepada swasta nasional.
Pertagas di bawah Direktur Utamanya Wiko Migantoro saat itu memilih mitra investasi lewat mekanisme beauty contest hanya mengundang PT Rukun Raharja Tbk dan PT Isar Gas.
Sejumlah sumber Riau Satu mengatakan, mekanisme beauty contest dengan hanya mengundang dua perusahaan saja inilah dianggap sebagai modus—diduga sejak awal mitra investasi memang diarahkan untuk kepentingan Raja Tbk.
Ketika Dirut PGN dijabat oleh Suko Hartono yang menggantikan Gigih Prakoso, proses pemilihan mitra investasi ini sempat tersendat.
Sebab, ada wacana porsi 25 % mitra investasi tersebut dibagi dua untuk PT Raja Tbk dengan PT Isar Gas (menurut laporan utama majalah Gatra edisi 15 - 21 Oktober 2020: Anak dan Mantu Megawati di Blok Rokan).