Ada pula Toha—yang kini telah meninggal dunia akibat kecelakaan di Tol Bangkinang—dikenal sebagai perantara jual beli lahan dengan seorang tokoh lokal, Khalifah.
Di Kecamatan Rokan IV Koto, Kabupaten Rokan Hulu, provinsi Riau, praktik serupa terjadi.
Beberapa nama yang disebut warga antara lain Manik, Hasibuan, Putra, Wandi, dan Lubis. Manik bahkan disebut sebagai tokoh dominan di kawasan Cipangkiri hingga Tibawan.
“Di sini, siapa pun yang mau main kayu, kalau tak tunduk ke Manik, pasti disikat,” kata seorang warga Desa Pendalian.
Mereka menebang kayu campuran, menguasai lahan hutan, dan membuka kebun sawit di atasnya.
Deforestasi berlangsung secara terstruktur. Warga menyebut ada kekuatan modal besar di baliknya.
Media menelusuri kawasan Simpang Balung, sekitar 15 kilometer dari Simpang Balak. Dari jalan tanah yang baru dibuka, terlihat hamparan hutan yang telah dibakar.
Asap sisa pembakaran masih mengepul. Di sekelilingnya, bibit sawit sudah ditanam di tanah yang belum sepenuhnya padam.
Dari titik ini, perkebunan menjalar melewati Desa Siasam, XIII Koto Kampar, menembus Kampar Kiri, Lipat Kain, hingga ke simpang Rakit Gadang.
“Jangan kira mereka sembarangan. Mereka punya backing,” ujar seorang aktivis lingkungan yang selama ini memantau kawasan itu.
Ia menunjukkan foto-foto udara dari drone yang memperlihatkan kerusakan hutan secara masif di wilayah perbatasan.
Kepala Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Kampar, Dendy, mengaku tak berdaya.
“Kami hanya punya lima anggota di lapangan. Sementara lokasi sangat luas, dan dana operasional hampir tidak ada,” kata Dendy.
Ia juga mengaku sering menerima laporan, tapi tak mampu menindaklanjuti karena keterbatasan sumber daya.