PEKANBARU,RIAUSATU.COM-Indeks Harga Konsumen (IHK) merupakan salah satu indikator ekonomi penting yang sering digunakan untuk mengukur tingkat perubahan harga barang dan jasa berupa inflasi/deflasi di tingkat konsumen di daerah perkotaan.
Perubahan IHK dari waktu ke waktu menunjukkan pergerakan harga dari paket komoditas barang dan jasa yang dikonsumsi oleh rumah tangga di suatu daerah tertentu.
Inflasi yang disajikan pada publikasi ini meliput inflasi bulanan, inflasi tahun kalender dan inflasi tahun ke tahun (year on year).
Inflasi bulanan merupakan gambaran perubahan Indeks Harga Konsumen (IHK) bulan bersangkutan dengan bulan sebelumnya, sedangkan inflasi tahun kalender merupakan perubahan IHK bulan bersangkutan dibanding dengan IHK bulan Desember tahun sebelumnya atau dikenal juga inflasi kumulatf dari bulan Januari sampai dengan bulan berjalan, dan inflasi tahun ke tahun (year on year) merupakan perubahan IHK bulan berjalan dengan bulan yang sama tahun sebelumnya.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Riau, S Aden Gultom menjelaskan, berdasarkan hasil pemantauan BPS Provinsi Riau di Kota Pekanbaru, Dumai dan Tembilahan, pada Maret 2018 di Riau terjadi inflasi sebesar 0,55 persen atau terjadi kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 133,82 pada Februari 2018 menjadi 134,56 pada Maret 2018. Tingkat Inflasi Tahun Kalender sebesar 0,85 persen, dan tingkat Inflasi Tahun ke Tahun atau Year on Year sebesar 3,62 persen.
"Inflasi Riau pada bulan Maret 2018 sebesar 0,55 persen terjadi karena adanya kenaikan Indeks Harga Konsumen pada enam kelompok pengeluaran, dengan inflasi tertinggi terjadi pada kelompok pengeluaran bahan makanan sebesar 1,68 persen dengan andil 0,40 persen. Komoditas utama yang mengalami inflasi dan memberikan andil terbesar pada kelompok ini adalah cabai merah, bawang merah, bawang putih, udang basah, ikan serai, ikan teri dan lain sebagainya," ujar Aden, Senin (2/4/2018) di kantor BPS Riau, jalan Pattimura, Pekanbaru.
Berikutnya, sambung Aden, kelompok sandang sebesar 0,62 persen dengan andil 0,04 persen, kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau sebesar 0,35 persen dengan andil 0,07 persen, kelompok kesehatan sebesar 0,31 persen dengan andil 0,01 persen, serta kelompok transport, komunikasi dan jasa keuangan dan kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar masing-masing sebesar 0,06 persen dengan andil masing-masing sebesar 0,01 persen. Sedangkan kelompok pendidikan, rekreasi, dan olahraga relatif stabil.
"Dari 3 kota IHK di Provinsi Riau, semua kota mengalami inflasi, yakni Pekanbaru 0,56 persen, Dumai 0,05 persen, dan Tembilahan 1,38 persen. Inflasi Riau Maret 2018 terjadi karena adanya kenaikan harga pada enam kelompok pengeluaran, yaitu kelompok bahan makanan 1,68 persen, diikut kelompok sandang 0,62 persen, kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau 0,35 persen, kelompok kesehatan 0,31 persen, serta kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar dan kelompok transportasi, komunikasi, dan jasa keuangan masing-masing sebesar 0,06 persen. Sedangkan kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga relatif stabil," urainya.
Komoditas yang memberikan andil terjadinya inflasi di Riau, dikatakan Aden, antara lain cabai merah, bawang merah, ketupat/lontong sayur, bawang putih, udang basah, ikan serai, bensin, dan lain-lain. Sementara itu komoditas yang menahan inflasi (deflasi) antara lain daging ayam ras, telur ayam ras, angkutan udara, bayam dan lain-lain.
"Dari 23 kota di Sumatera yang menghitung IHK, 19 kota mengalami inflasi, dengan Inflasi tertinggi terjadi di Kota Tembilahan sebesar 1,38 persen, diikut oleh Sibolga 0,79 persen, dan Jambi 0,63 persen. Sedangkan inflasi terendah terjadi di Kota Dumai sebesar 0,05 persen. Deflasi terjadi di 4 kota, yang terbesar terjadi di kota Lhokseumawe dengan deflasi sebesar 0,25 persen. Di Indonesia, dari 82 kota yang menghitung IHK, 57 kota mengalami inflasi, dengan inflasi tertinggi terjadi di Jayapura sebesar 2,10 persen, diikut Tembilahan 1,38 persen, dan Tanjung 0,83 persen, sedangkan inflasi terendah terjadi di Kota Sumenep sebesar 0,01 persen. Deflasi terjadi di 25 kota, yang terbesar terjadi di kota Tual dengan deflasi sebesar 2,30 persen," pungkasnya.(fat)