“Surplus produksi menurun. Ini terkait pola produksi padi yang musiman. Seperti pola puluhan tahun lalu, produksi di musim gadu (Juni-September) mulai menurun. Produksi lebih rendah dari musim panen raya (Februari-Mei),” paparnya.
“Ujung dari tiga kondisi di atas, harga gabah di pasar akan tetap tinggi. Ketika harga gabah tinggi, harga beras juga akan tetap tinggi. Tiga penyebab ini saling terkait dan saling memperkuat,” beber Khudori.
Untuk meredakan lonjakan harga, pemerintah perlu mengambil langkah berani.
Pertama, relaksasi penyaluran SPHP agar beras mengalir deras ke pasar, dengan pengawasan ketat untuk mencegah penyelewengan.
Kedua, menghentikan penyerapan Bulog melalui skema maklun dan mengalihkan fokus ke penyaluran stok yang kini menumpuk hingga 4 juta ton di gudang Bulog.
Ketiga, menarik Satgas Pangan dari peran sebagai “polisi ekonomi” karena justru menimbulkan ketidakpastian usaha dan memicu sinyal palsu di pasar.
Selain itu, pemerintah juga didesak menyesuaikan kembali HET beras. Menurutnya, akar dari kisruh perberasan adalah ketidakcocokan antara HPP gabah yang sudah naik dengan HET beras yang tetap ditekan.***