ekonomi

Ini Cara Perempuan Minang Menjaga Sawah Tetap Bisa Diolah

Sabtu, 25 Mei 2024 | 14:04 WIB
Kelompok julo-julo sedang menggarap sawah. (f: e2)

SEMAKIN hari, tantangan agar areal persawahan tetap berproduksi kian berat dan beragam. Tapi komunitas petani padi di Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) punya cara tradisional untuk menjawab tantangan semacam itu.

Tantangan mempertahankan agar sawah tetap diolah dan menghasilkan padi di daerah itu antara lain datang dari kian berkurangnya animo generasi muda --terutama dari kalangan terdidik-- untuk menerjuni sektor ini.

Persoalan lain, dari sisi eksternal. yaitu harga pupuk yang tergolong mahal. Kendati sudah disubsidi oleh pemerintah, tetap saja ada petani yang tidak mampu membeli pupuk sesuai yang dibutuhkan.

Persoalan selanjutnya terkait dengan pengolahan lahan, yaitu bagaimana cara mengolah areal persawahan untuk kemudian bisa ditanami dan menghasilkan padi.

Menjelang sawah bisa ditanami padi, terdapat beberapa tahapan pekerjaan yang harus dilalui. Dimulai dengan membalik semua tanah di areal persawahan, untuk kemudian mengolahnya menjadi halus sehingga layak ditanami padi.

Langkah selanjutnya melakukan penanaman padi. Usai ditanami padi, areal persawahan --terutama pada bagian pematang-- setidaknya harus dibersihkan dua kali. Kalau tidak, bukan tidak mungkin tanaman padi akan dibalut oleh semak-semak.

Setelah itu, tinggal menunggu padi untuk disabit atau dipanen. Rata-rata pada umur tanaman sekitar tiga bulan 10 hari, sangat tergantung dengan varietas padi yang ditanam.

Semua tahapan pengerjaan areal persawahan, baik yang bersifat pengolahan atau pembersihan lahan, tidak semua petani yang bisa melakukannya sendiri-- terlebih bagi petani yang areal persawahannya tergolong luas.

Sejumlah petani padi sawah di Nagari Koto Alam, Kecamatan Pangkalan Koto Baru, Kabupaten Limapuluh Kota, Provinsi Sumatera Barat (Sumbar), mengaku tidak kuat untuk mengerjakan semua itu.

Banyak di antara petani berharap terjadi regenerasi di sektor ini. Artinya, ketika usia semakin tua juga, saatnya pengerjaan areal persawahan diserahkan kepada anak-anak. Kalau pun tidak penuh, minimal bisa meringankan.

Tapi, seperti disinggung di atas, banyak harapan yang tidak ketemu pada tataran kenyataan. Upik Rima, 47, misalnya, mengaku dua anak perempuannya tidak pernah mau membantunya mengolah sawah.

"Mungkin karena sempat mengecap jenjang pendidikan menengah atas, jadi enggan kerja tani," kata Upik Rima menduga-duga.

Ada opsi, yaitu memanfaatkan mekanisasi pertanian, setidaknya untuk jenis pekerjaan tertentu.

Sama dengan kasus di atas, untuk persoalan seperti ini tidak juga semua petani punya uang untuk menyewa alat dan mesin pertanian (alsintan). Apalagi sebagian besar pemilik alsintan menerapkan sistem bayar cash setelah alsintan digunakan.

Bagaimana areal persawahan tetap bisa diolah pada waktunya?

Halaman:

Tags

Terkini