Penawaran itu muncul setelah Bulog bertemu delegasi Sarawak, Malaysia, di Surabaya beberapa waktu lalu.
“Alhamdulillah sudah ada kesepakatan. Jadi mereka akan mengimpor dengan jumlah yang lumayan, sekitar 500 ribu ton. Ini tinggal negosiasi harga, sudah hampir fix,” katanya.
Menurut Rizal, pihak Malaysia menawarkan harga sekitar Rp16.000 per kilogram atau setara 3,7 ringgit.
Meski dinilai cukup baik, Bulog masih membuka ruang negosiasi agar harga ekspor dapat lebih menguntungkan bagi negara dan petani.
Ia menegaskan, sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto, kebijakan ekspor pangan harus tetap mengutamakan kepentingan nasional dan kesejahteraan petani.
“Kalau harga Rp16 ribu per kilogram ya lumayan sudah agak baik. Kalau memang bisa lebih naik lagi lebih bagus,” ujarnya.
Meski demikian, keputusan final terkait ekspor beras disebut masih akan dibahas lebih lanjut bersama Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman setelah kembali dari ibadah haji.
Sebelumnya, Wakil Menteri Pertanian Sudaryono mengatakan Indonesia mulai memasuki babak baru ketahanan pangan nasional.
Menurut dia, melimpahnya stok beras membuat Pemerintah siap memperluas ekspor sekaligus membantu negara sahabat yang mengalami krisis pangan.
Pemerintah, kata Sudaryono, telah menyiapkan sekitar 500.000 ton beras untuk kebutuhan ekspor ke sejumlah negara mitra seperti Malaysia, Papua Nugini, Timor Leste, Aljazair, hingga kawasan Timur Tengah termasuk Arab Saudi.
“Kita alokasikan ada sekitar 500.000 ton yang kita cadangkan untuk kebutuhan ekspor,” ujarnya di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta.
Meski mulai membuka peluang ekspor, Pemerintah menegaskan kebutuhan dalam negeri tetap menjadi prioritas utama.
Seluruh kebijakan ekspor akan dihitung berdasarkan ketersediaan stok dan kebutuhan konsumsi nasional.
“Jangan sampai kemudian kita mengorbankan kebutuhan dalam negeri,” tegas Sudaryono.
Ia menyebut stok beras pemerintah saat ini menjadi yang tertinggi sepanjang sejarah.