JAKARTA, RIAUSATU.COM — Dugaan pencurian gas mengemuka di balik ledakan pipa gas milik PT Trans Gas Indonesia (TGI) di Desa Batu Ampar, Kecamatan Kemuning, Kabupaten Indragiri Hilir, Riau.
Insiden yang terjadi pada Jumat (2/1/2026) itu berdampak langsung pada pasokan energi dan menyebabkan produksi minyak Blok Rokan turun tajam.
Gangguan pada jaringan pipa gas tersebut menghentikan pasokan gas ke Pembangkit Listrik Tenaga Gas (PLTG) Duri North berkapasitas 300 megawatt.
Akibatnya, produksi minyak Blok Rokan dilaporkan merosot hingga sekitar 30.000 barel per hari dari kondisi normal sekitar 165.000 barel per hari.
Center of Energy and Resources Indonesia (CERI) menyatakan, informasi yang mereka peroleh mengarah pada dugaan penyadapan pipa gas sebelum terjadinya ledakan.
Jika dugaan tersebut terbukti, potensi kerugian negara dinilai sangat besar karena terganggunya produksi migas dalam periode yang belum dapat dipastikan.
Sekretaris CERI Hengki Seprihadi mengatakan, meskipun terdapat upaya mengalihkan pasokan gas dari wilayah lain, pemulihan produksi Blok Rokan tidak dapat dilakukan dalam waktu singkat.
“Untuk mengembalikan produksi ke level awal dibutuhkan waktu dan usaha yang tidak mudah,” ujarnya, Jumat, 9 Januari 2026.
CERI juga menerima informasi adanya kebocoran lanjutan pada jaringan pipa gas TGI.
Kebocoran tersebut dilaporkan terjadi pada Jumat (9/1/2026), sekitar 70 kilometer dari lokasi ledakan di Desa Batu Ampar, saat dilakukan uji coba pengaliran gas pascaperbaikan.
Menurut Hengki, penelusuran CERI mengungkap informasi dari seorang mantan petinggi sektor migas yang menyebut adanya dugaan penyadapan pipa gas TGI yang berlangsung cukup lama.
Gas hasil penyadapan itu diduga dijual tanpa terdeteksi oleh sistem pengawasan.
Atas informasi tersebut, CERI mengaku telah mengonfirmasi kepada salah satu petinggi PT TGI.
Menurut Hengki, pihak TGI tidak menampik adanya dugaan pencurian gas dan saat ini tengah melakukan investigasi internal dengan melibatkan pihak ketiga.
“Manajemen menunjuk load adjuster independen dan akademisi dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS). Proses investigasi ini juga berjalan paralel dengan penyelidikan yang dilakukan Polda Riau,” kata Hengki.