JAKARTA, RIAUSATU.COM - Kewaspadaan terhadap fenomena El Nino sudah diwacanakan pemerintah sejak Agustus 2023. Namun, sampai September 2023, harga beras justru terus meningkat, sementara stok terus mengalami penurunan.
Karena belum tertangani dengan baik, pakar ekonomi dari Universitas Padjadjaran, Arief Anshory Yusuf, menyarankan pemerintah untuk membuat kebijakan berdasarkan analisis ilmiah.
Respons yang disebut science-based policy itu harus segera dilakukan karena kondisi yang semakin berdampak ke masyarakat.
"Pemerintah harus segera menganalisis dengan lebih teliti. Kumpulkan pakar meteorologi, perkirakan secara ilmiah, juga pakar pertanian dan ekonomi untuk memproyeksikan bagaimana dampaknya. Ini yang disebut science-based policy respons," katanya di Bandung, Rabu, 13 September 2023, dilansir Pikiran-Rakyat.com.
Sebelumnya, pada Agustus 2023, Mendagri Muhammad Tito Karnavian menyebutkan arahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) terkait langkah strategis untuk mengantisipasi ketersediaan beras di daerah.
Pertama, pemerintah daerah perlu mengetahui atau memonitor wilayah kantong produksi beras yang mengalami kekeringan, sehingga membuat produksi beras dalam negeri menurun.
Kedua, pemda perlu monitoring wilayah yang mengalami kekurangan beras dan kenaikan harga beras.
Ketiga, pemda perlu mengintervensi daerah yang mengalami kedua kondisi tersebut dan penanganannya disesuaikan dengan kondisi masing-masing daerah. Daerah yang stok berasnya masih mencukupi dinyatakan tidak perlu dilakukan intervensi.
Akan tetapi, monitoring saja ternyata tidak cukup. Apalagi, fenomena iklim El Nino ternyata menyebabkan musim kering lebih lama. Hal itu pun berdampak ke puso atau gagal panen yang bisa semakin serius.
Menurut Arief, atas sebab itu, pemerintah perlu menganalisis secara ilmiah dengan mengumpulkan pakar meteorologi, pakar pertanian, dan pakar ekonomi. Apalagi, el nino yang diperkirakan akan berlangsung lebih lama menunjukkan dampak terhadap ketersediaan pangan, inflasi, dan daya beli.
Pasokan beras global turun
Selain memantau hasil panen dan stok beras dalam negeri, pemerintah juga sudah mengungkapkan rencana impor beras dari negara-negara yang biasa menjadi sumber impor beras. Di antaranya adalah Vietnam, Thailand, dan India.
Akan tetapi, India pun sudah menghentikan ekspor ke Indonesia. Vietnam dan Thailand juga mengalami kekurangan karena kekeringan sehingga diutamakan untuk konsumsi dalam negeri.
Arief mengatakan, el nino memang bukan hanya berdampak di Indonesia, sehingga pasokan beras juga berkurang secara global. Oleh karena itu, keinginan mengimpor itu pun belum tentu didapatkan pemerintah. Kalaupun mendapatkan produk, harganya akan jauh lebih tinggi.
"Oleh karena itu, pemerintah terpaksa harus siap menyediakan dana lebih untuk mengimpor beras, berapapun harga yang ada di pasar internasional, dan menjualnya tentunya dengan harga normal di Indonesia, yaitu dengan subsidi," katanya.