Menurut Firman Manan, Pengamat Politik dari Universitas Padjadjaran, penyelenggara pemilu maupun peserta pemilu harus juga menggunakan media yang familier dengan teman-teman pemilih muda itu. Saat ini, pendekatan-pendekatan yang terlalu konvensional tidak efektif untuk menjangkau mereka.
"Tetapi bukan hanya medianya, tapi juga kontennya. Harus dicermati, pemilih muda punya perbedaan ketertarikan terhadap isu. Apa sih sebetulnya isu yang menarik bagi pemilih muda? Kemudian lewat media apa bisa tingkatkan partisipasi mereka untuk berdiskusi," ucapnya.
Dikatakannya, medsos tentu bersifat lebih interaktif dibandingkan media konvensional. Hal itu sesuai dengan karakter pemilih muda yang membutuhkan interaksi. Karena itu, kandidat peserta pemilu pun ketika menggunakan medsos harus memiliki kesiapan interaksi.
Penjangkauan pemilih muda dan pemilih pemula melalui medsos bisa efektif untuk mereka yang tinggal di perkotaan. Mereka akan aktif mencari informasi sendiri sehingga cenderung lebih independen dalam menentukan pilihan.
Namun, kata Firman, untuk pemilih muda dan pemilih pemula di pedesaan, pola yang muncul saat menentukan pilihan masih cukup tradisional. Mereka masih tergantung pada pengaruh yang diberikan oleh keluarga, tokoh agama, maupun aparat pemerintah.***