Ditemukan Kasus Amoeba Pemakan Otak, Mari Kenali Gejalanya

photo author
Evi Endri, Riau Satu
- Kamis, 29 Desember 2022 | 15:17 WIB
Ilustrasi. (f: int)
Ilustrasi. (f: int)

JAKARTA, RIAUSATU.COM - Makin banyak saja jenis penyakit yang mengancam umat manusia di atas muka bumi ini. Belum usai Covid-19, ditemukan pula jenis penyakit baru yang tidak kalah "mengerikan."

Dilaporkan dari Korea Selatan tentang kasus infeksi pertama dari Naegleria fowleri atau amoeba pemakan otak. Berdasarkan informasi, pihak berwenang Korea Selatan menemukan kasus tersebut pada seorang pria berusia 50 tahun yang baru saja kembali dari Thailand.

Badan Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Korea (KDCA) mengungkapkan bahwa pria tersebut sempat tinggal di Thailand selama empat bulan sebelum memasuki Korea Selatan pada tanggal 10 Desember.

Sehari setelah kedatangannya kembali ke Negeri Ginseng, pria tersebut dilarikan ke ruang gawat darurat lantaran mengalami gejala-gejala seperti sakit kepala, muntah, kaku di bagian leher, dan berbicara cadel.

Kemudian, pada tanggal 21 Desember pria tersebut dikabarkan meninggal dunia. Setelah otoritas kesehatan menjalankan sejumlah tes untuk mengetahui penyebab kematiannya, ditemukan bahwa pria tersebut mengalami infeksi yang disebabkan oleh Naegleria fowleri.

Diketahui, Nagleria merupakan amoeba, organisme bersel tunggal dan hanya ada satu spesiesnya yang dinamakan Naegleria fowleri.

Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC), Naegleria fowleri pertama kali ditemukan di Australia pada tahun 1965, di mana organisme ini bisa menginfeksi manusia.

Umumnya, Naegleria fowleri ditemukan di badan air tawar yang hangat, seperti mata air panas, sungai dan danau.

Naegleria fowleri memasuki tubuh manusia melalui hidung yang kemudian bergerak menuju otak, hal ini terjadi saat seseorang melakukan aktivitas air seperti berenang atau menyelam.

Dalam beberapa kasus, ditemukan bahwa orang terinfeksi ketika mereka membersihkan lubang hidung mereka dengan air yang terkontaminasi.

Hingga kini para ilmuwan masih belum menemukan bukti penyebaran Naegleria fowleri melalui uap air atau tetesan aerosol.

Menurut CDC, ketika Naegleria fowleri sampai pada bagian otak manusia, maka organisme tersebut bisa merusak dan menghancurkan jaringan otak sehingga menyebabkan infeksi berbahaya yang dikenal dengan meningoensefalitis amebic primer (PAM).

Biasanya tanda-tanda pertama PAM mulai terlihat dalam satu hingga 12 hari setelah terjadinya infeksi. Gejala awal yang ditimbulkan pun mirip dengan gejala meningitis, yaitu sakit kepala, mual, dan demam.

Kemudian pada tahap berikutnya, penderita akan mengalami kaku pada bagian leher, kejang, halusinasi, hingga koma.

Badan Kesehatan AS juga mengatakan bahwa penyebaran infeksi tersebut terjadi sangat cepat dan rata-rata menyebabkan kematian dalam waktu sekitar lima hari.***

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Evi Endri

Tags

Rekomendasi

Terkini

BMKG: Hujan Masih Berpotensi Mengguyur Riau

Selasa, 26 Mei 2026 | 11:05 WIB
X