Mengenali Gejala Difteri, yang Wabahnya Merebak di Garut

photo author
Evi Endri, Riau Satu
- Kamis, 23 Februari 2023 | 14:07 WIB
 Ilustrasi difteri. (f: int)
Ilustrasi difteri. (f: int)

1. Badan menjadi lemas dan lelah
2. Mengalami sakit di bagian tenggorokan
3. Merasakan demam ringan
4. Mengalami pembengkakan kelenjar di bagian leher

Difteri juga dapat membuat racun yang membunuh jaringan sehat di sistem pernapasan. Sementara itu, dalam dua hingga tiga hari, jaringan mati tersebut akan membentuk sebuah lapisan abu-abu tebal yang dapat menumpuk di tenggorokan atau hidung.

Berdasarkan dari pemaparan pakar medis, disebutkan bahwa lapisan abu-abu yang tebal tersebut sebagai "pseudomembran" yaitu dapat menutupi jaringan di hidung, amandel, kotak suara, dan tenggorokan, sehingga sangat sulit untuk bernapas dan menelan.

Adapun jika toksin tersebut masuk ke dalam aliran darah, dapat menyebabkan kerusakan jantung, saraf, dan ginjal pada penderitanya.

Selain menjangkit bagian pernafasan, difteri juga dapat menginfeksi kulit. Adapun gejalanya yaitu dapat menyebabkan menyebabkan luka terbuka atau bisul. Beruntungnya, infeksi difteri pada kulit, tercatat jarang mengakibatkan penyakit yang parah.

Baca Juga: Cegah Korban Jiwa, Orangtua Wajib Waspadai Gejala Awal Gagal Ginjal Akut

Pengobatan difteri
Ada beberapa hal yang dapat dilakukan bagi para penderita, agar dapat sembuh dari penyakit difteri ini, yaitu sebagai berikut:

- Mengonsumsi antitoksin difteri dengan tujuan untuk menghentikan racun bakteri yang merusak tubuh. Hal ini penting bagi penderita yang terinfeksi difteri pada bagian pernapasan, namun bagi penderita infeksi difteri pada bagian kulit, hal ini jarang digunakan untuk.

- Menggunakan antibiotik untuk membunuh dan menyingkirkan bakteri. Berbeda dengan poin sebelumnya, poin kedua ini merupakan hal penting untuk seluruh jenis infeksi difteri baik pada pernapasan, kulit dan bagian tubuh lainnya.

Penderita difteri tidak dapat menulari orang selama 48 jam usai mereka minum antibiotik. Namun, penggunaan antibiotik ini harus dilakukan secara rutin guna memastikan bahwa bakteri tersebut benar-benar hilang dari tubuh penderita.

Usai pasien pengobatan dilakukan secara lengkap, dokter pun akan kembali melakukan tes guna memastikan bakteri tersebut tak lagi bersemayam di tubuh pasien.

Demikianlah penjelasan terkait penyakit difteri, gejala, penyebab hingga cara pengobatannya.***

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Evi Endri

Tags

Rekomendasi

Terkini

BMKG: Hujan Masih Berpotensi Mengguyur Riau

Selasa, 26 Mei 2026 | 11:05 WIB
X