Perusahaan menyebut perubahan warna air yang terjadi diduga dipengaruhi tingginya intensitas curah hujan dalam beberapa waktu terakhir.
Kondisi tersebut, menurut perusahaan, dapat meningkatkan aliran material alami menuju kawasan pesisir.
Manajemen PT FHT mengaku telah menurunkan tim teknis dan tim lingkungan untuk melakukan investigasi lebih lanjut, sekaligus mengevaluasi sistem pengendalian sedimentasi serta infrastruktur pendukung lainnya.
Selain itu, perusahaan menyatakan terbuka terhadap proses verifikasi maupun evaluasi yang dilakukan pemerintah dan instansi terkait guna memastikan penanganan dilakukan secara objektif dan berbasis data lapangan.
Sementara itu, Pemerintah Kabupaten Halmahera Timur menyatakan terus memantau perkembangan kondisi lingkungan di kawasan Teluk Buli dan meminta perusahaan segera mengambil langkah penanganan apabila ditemukan persoalan yang berpotensi menimbulkan dampak lingkungan.
Hingga kini, publik masih menunggu hasil pemeriksaan pemerintah untuk memastikan penyebab pasti perubahan warna perairan di Teluk Buli.
Di balik polemik yang berkembang, muncul tuntutan agar aktivitas pertambangan tetap berjalan seiring dengan kepatuhan terhadap prinsip perlindungan lingkungan dan keberlanjutan ekosistem pesisir. ***