Teluk Buli Berubah Warna, WALHI hingga Akademisi Kompak Desak Audit PT Feni Haltim

photo author
Novrizon Burman, Riau Satu
- Senin, 1 Juni 2026 | 16:16 WIB
Teluk Buli Berubah Warna, WALHI hingga Akademisi Kompak Desak Audit PT Feni Haltim.
Teluk Buli Berubah Warna, WALHI hingga Akademisi Kompak Desak Audit PT Feni Haltim.

Pakar lingkungan Universitas Indonesia, Mahawan Karuniasa, menilai perubahan warna air di Teluk Buli tidak dapat serta-merta dikaitkan dengan faktor alam tanpa didukung hasil kajian ilmiah yang memadai.

Menurut Mahawan, risiko limpasan air, erosi, dan sedimentasi merupakan bagian yang semestinya telah dipetakan sejak awal dalam dokumen lingkungan perusahaan.

Karena itu, seluruh sistem mitigasi yang dirancang harus mampu mengantisipasi berbagai kemungkinan yang muncul selama operasional berlangsung.

Ia menegaskan bahwa proyek yang memiliki status strategis nasional justru harus menerapkan standar perlindungan lingkungan yang lebih tinggi.

“Sebagai proyek strategis nasional, standar kepatuhan, transparansi, dan akuntabilitas lingkungan itu harus lebih tinggi, bukan lebih longgar,” ujarnya.

Mahawan menilai audit yang dilakukan secara terbuka akan membantu memastikan penyebab perubahan kondisi perairan sekaligus menjaga kepercayaan publik terhadap proses pengawasan lingkungan.

Dugaan Sedimentasi Jadi Sorotan

Sementara itu, Lembaga Advokasi Tambang dan Laut (Latamla) menyoroti kemungkinan adanya sedimentasi yang mengalir dari kawasan hulu menuju wilayah pesisir Teluk Buli.

Direktur Latamla, Faiz Albaar, mengatakan sistem pengendalian lingkungan yang tersedia semestinya mampu mencegah material berupa lumpur dan pasir masuk ke badan sungai maupun perairan pesisir dalam jumlah besar.

Menurut dia, keberadaan check dam di aliran Kali Kukuba memiliki fungsi penting untuk menahan sedimen agar tidak terbawa hingga ke kawasan laut.

“PT FHT wajib melindungi lingkungan sekitar dari dampak aktivitas perusahaan. Kali Kukuba sebagai nadi utama habitat laut di Teluk Buli harus diselamatkan dan wajib lestari,” kata Faiz.

Desakan audit juga disampaikan Koalisi Masyarakat Sipil Selamatkan Tambang (KSST).

Koordinator KSST, Ronald Lobloby, menilai persoalan yang terjadi menyangkut keberlanjutan ekosistem pesisir sekaligus tata kelola pertambangan di salah satu kawasan industri nikel terbesar di Indonesia.

Perusahaan Sebut Dipengaruhi Curah Hujan

Menanggapi berbagai sorotan yang muncul, PT Feni Halmahera Timur menyatakan telah melakukan evaluasi internal dan pemeriksaan lapangan terkait kondisi perairan di Teluk Buli.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Novrizon Burman

Tags

Rekomendasi

Terkini

Pasbar di Sumbar Diguncang Gempa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 11:40 WIB

Masih Dibuka, Rekrutmen Bintara PK Pria TNI AL

Jumat, 17 Juli 2026 | 16:25 WIB

BMKG: Waspada Hujan Lebat di Sebagian Besar Riau

Kamis, 16 Juli 2026 | 09:23 WIB

BMKG: Cuaca Riau Hari Ini Relatif Kondusif

Selasa, 14 Juli 2026 | 09:00 WIB
X