Idulfitri: Risalah Nasional untuk Rekonsiliasi Bangsa

photo author
Febriyanto RS, Riau Satu
- Jumat, 20 Maret 2026 | 11:47 WIB
Dewan Penasihat Persatuan Umat Islam (PUI), Prof Ahmad Tjahja Nugraha. (f: istimewa)
Dewan Penasihat Persatuan Umat Islam (PUI), Prof Ahmad Tjahja Nugraha. (f: istimewa)

JAKARTA, RIAUSATU.COM – Di tengah dinamika politik domestik dan ketegangan geopolitik dunia, Idulfitri menjadi kesempatan penting untuk memperkuat rekonsiliasi sosial dan kebangsaan.

Hari Raya Idulfitri bukan sekadar perayaan kemenangan spiritual setelah menjalankan ibadah Ramadan.

Lebih d niari itu, momen ini memiliki makna mendalam sebagai waktu untuk membersihkan diri, mempererat silaturahmi, dan memperkuat nilai-nilai kebersamaan.

Tradisi saling memaafkan yang melekat dalam Idulfitri seharusnya dimaknai lebih dalam, bukan sekadar formalitas atau salaman fisik.

Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Achmad Tjahja Nugraha, menegaskan bahwa makna Idulfitri sejatinya adalah kembali kepada kesucian hati dan memperbaiki relasi antar manusia, termasuk dalam kehidupan berbangsa.

Menurutnya, tradisi saling memaafkan yang terjadi setiap Idulfitri seharusnya tidak berhenti pada simbol atau kebiasaan sosial semata.

“Maaf dalam Idulfitri bukan sekadar berjabat tangan atau mengucapkan kata-kata formal. Hakikatnya adalah pembersihan hati, keikhlasan untuk menghapus dendam, serta membuka ruang rekonsiliasi yang tulus,” ujar Prof Achmad, dalam rilisnya yang diterima redaksi media siber ini, Kamis, 19 Maret 2026.

Nilai memaafkan sendiri merupakan ajaran penting dalam Islam.

Dalam Al-Qur’an, Allah memuji orang-orang yang mampu menahan amarah dan memaafkan kesalahan orang lain. Sebagaimana disebutkan dalam Qur'an Surah Ali Imran 3:134:

“(yaitu) orang-orang yang menafkahkan hartanya di waktu lapang maupun sempit, orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan kesalahan orang lain. Dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.”

Menurut Prof Achmad, semangat tersebut sangat relevan dengan kondisi kebangsaan yang kerap diwarnai perbedaan pandangan, konflik kepentingan, hingga polarisasi di ruang publik.

Dalam konteks itulah Idulfitri dapat menjadi “risalah nasional” yang mengingatkan seluruh elemen bangsa untuk kembali pada nilai persaudaraan, toleransi, dan persatuan.

“Idulfitri adalah pesan moral bagi bangsa. Jika masyarakat mampu mempraktikkan maaf yang tulus, maka kehidupan sosial dan politik kita juga bisa lebih sehat dan damai,” katanya.

Al-Qur’an juga menegaskan pentingnya menjaga persaudaraan dan mendamaikan konflik di tengah masyarakat. Hal ini tercermin dalam Qur'an Surah Al-Hujurat 49:10:

“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara. Karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat.”

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Febriyanto RS

Tags

Rekomendasi

Terkini

Pasbar di Sumbar Diguncang Gempa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 11:40 WIB

Masih Dibuka, Rekrutmen Bintara PK Pria TNI AL

Jumat, 17 Juli 2026 | 16:25 WIB

BMKG: Waspada Hujan Lebat di Sebagian Besar Riau

Kamis, 16 Juli 2026 | 09:23 WIB

BMKG: Cuaca Riau Hari Ini Relatif Kondusif

Selasa, 14 Juli 2026 | 09:00 WIB
X