Untuk itu, karena belum tersedia terapi spesifik, pencegahan menjadi strategi paling efektif dalam menghadapi virus Nipah.
Dr. Ariani menekankan pentingnya perilaku hidup bersih dan sehat, serta kewaspadaan terhadap lingkungan sekitar.
Terutama langkah paling dasarnya untuk menjaga kebersihan tangan secara rutin. “Membersihkan tangan secara teratur dengan cuci tangan pakai sabun dan air mengalir selama 40-60 detik atau menggunakan cairan antiseptik berbasis alkohol (handsanitizer) minimal 20-30 detik. Hindari menyentuh mata, hidung dan mulut dengan tangan yang tidak bersih,” tuturnya.
Selain itu, menjaga daya tahan tubuh melalui konsumsi makanan bergizi seimbang dan istirahat cukup yang dapat berperan besar dalam memperkuat sistem kekebalan tubuh.
Selanjutnya masyarakat juga diimbau menghindari kontak dengan sumber penularan, terutama hewan yang berisiko atau wilayah yang sedang mengalami wabah.
“Tidak berburu atau menangani hewan liar sebagai reservoir virus. Selalu membersihkan kandang dan benda yang mungkin terkontaminasi,” kata dr. Ariani.
Dan aspek lain yang tidak kalah penting adalah keamanan pangan. Ia mengingatkan bahwa kebiasaan konsumsi yang tidak aman dapat menjadi jalur masuk virus Nipah ke tubuh manusia.
“Tidak mengonsumsi nira/aren langsung dari pohonnya, karena kelelawar dapat mengontaminasi sadapan aren/nira pada malam hari. Oleh karenanya perlu dimasak sebelum dikonsumsi. Cuci & kupas buah secara menyeluruh, buang buah yang ada tanda gigitan kelelawar,” pungkasnya.
Dengan pemahaman yang baik mengenai diagnosis dan langkah pencegahan, ia berharap masyarakat dapat lebih siap dan waspada menghadapi potensi ancaman virus Nipah, meskipun hingga kini Indonesia belum mencatat adanya kasus.***