PADANG, RIAUSATU.COM - Air jernih dari sinkhole di Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat, yang sempat diambil warga karena dianggap aman dan berkhasiat hu, dipastikan mengandung bakteri Escherichia coli atau E. coli.
Kepastian tersebut disampaikan pemerintah setelah dilakukan pemeriksaan kualitas air, di tengah ramainya warga yang datang dan mengantre untuk mengambil air dari lubang besar yang muncul di area persawahan.
Diberitakan Kompas.com, Jumat (9/1/2026), puluhan warga datang setiap hari ke lokasi sinkhole di Jorong Tepi, Nagari Situjuah Batua, sejak lubang besar itu muncul.
Sebagian warga mengambil air karena terlihat jernih, tidak berbau, dan diyakini layak digunakan.
Kepala BPBD Limapuluh Kota Rahmadinol mengatakan pihaknya sudah memasang garis pengaman bersama kepolisian, namun warga tetap berdatangan.
“Kami sudah bekerja sama dengan kepolisian untuk memberi garis polisi, tetapi masyarakat masih ramai datang,” kata Rahmadinol kepada Kompas.com.
Ahli geologi Sumatera Barat Ade Edwar sempat menjelaskan bahwa air di dalam sinkhole merupakan air tanah yang tersaring oleh batuan kapur, sehingga terlihat jernih dan tidak berbau.
Meski demikian, ia tetap mengingatkan bahwa air tersebut seharusnya dimasak sebelum digunakan.
Namun, anggapan bahwa air tersebut aman dikonsumsi kemudian diluruskan oleh hasil pemeriksaan lanjutan.
Berdasarkan laporan Antara, Senin (12/1/2026), seperti dilansir kompas.com, Wakil Gubernur Sumatera Barat Vasko Ruseimy menegaskan bahwa air sinkhole mengandung bakteri E. coli dalam jumlah cukup tinggi. Pemeriksaan dilakukan oleh Badan Geologi dan Dinas Kesehatan setempat.
“Kualitas air menunjukkan kandungan bakteri yang cukup tinggi, sehingga kami mengimbau masyarakat untuk tidak mengonsumsinya,” ujar Vasko.
Ia juga menyebutkan bahwa nilai pH air berada di bawah 6,5, sehingga tidak memenuhi syarat sebagai air layak minum. “Kalau bisa jangan diminum, anggap saja seperti air sungai,” katanya.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menjelaskan bahwa E. coli merupakan bakteri yang biasa digunakan sebagai indikator pencemaran tinja pada air. Dalam air minum, bakteri ini seharusnya tidak ada sama sekali.
WHO menyebutkan bahwa beberapa jenis E. coli dapat menyebabkan diare, kram perut, muntah, hingga komplikasi serius seperti gangguan ginjal, terutama pada anak-anak dan lansia.
Bakteri ini dapat masuk ke tubuh manusia melalui air yang terkontaminasi dan tidak diolah dengan benar.