Sejumlah Wilayah di Sumbar Terisolasi, Relawan Ceritakan Perjalanan 17 Km Antar Bantuan

photo author
Evi Endri, Riau Satu
- Senin, 8 Desember 2025 | 08:56 WIB
Ilustrasi. (f: kompas.com)
Ilustrasi. (f: kompas.com)

PADANG, RIAUSATU.COM - Sejumlah video aksi sukarelawan berupaya menembus wilayah-wilayah di Sumatera Barat (Sumbar) yang disebut masih terisolasi akibat banjir, belakangan menarik perhatian publik di media sosial.

"Bukan ajang uji nyali, tapi kami sedang mengantar ‘segenggam nasi’ untuk warga yang terisolasi berhari-hari,” demikian keterangan dalam sebuah video yang memperlihatkan beberapa orang tengah meniti jembatan bambu, dilansir kompas.com.

Video tersebut, bersama beberapa unggahan lainnya, diposting oleh pengguna Threads @dinni_ramayani pada Sabtu (6/12/2025).

Ia turut menambahkan ajakan, “Satu-satunya cara paling memungkinkan adalah dengan hiking ke sana. Kita jalan kaki dan bawa tas-tas berisi bantuan paling mendesak. Yok mulai list siapa yang bisa ikut dan kumpulkan tas-tas keril kalian! Yok kita bisa!”

Saat dihubungi Kompas.com, Minggu (7/12/2025), Dinni Ramayani (28) menjelaskan sejumlah wilayah di Sumbar masih terisolasi total setelah banjir besar yang menerjang pada akhir November lalu.

“Di beberapa nagari, akses jalan terputus, jembatan hanyut, dan jaringan komunikasi lumpuh, membuat ribuan warga terjebak tanpa pasokan memadai,” ujarnya.

Dinni mengaku tak pernah membayangkan dirinya akan menjadi penghubung informasi untuk kampung halamannya dalam kondisi bencana. Ketika banjir bandang melanda Kecamatan IV Nagari Bayang Utara, Pesisir Selatan, ia merasa terpanggil untuk membantu.

"Saya putri asli Asam Kumbang. Daerah yang paling parah itu di ujung kecamatan saya,” tuturnya.

Di wilayah tersebut, kata dia, sinyal seluler hanya hidup saat genset dinyalakan pada malam hari. Akibatnya, informasi dari warga berjalan tersendat dan banyak yang tak bisa meminta pertolongan.

Dinni kemudian melakukan koordinasi jarak jauh dengan adik-adiknya di kampung melalui sinyal seadanya. Ia juga kembali terhubung dengan Ikatan Mahasiswa Bayang dan Bayang Utara (IMABAY), komunitas yang pernah ia ikuti.

Melalui Instagram dan Threads, ia mulai mengunggah cerita dan kondisi warga yang terisolasi. “Bagaimana rasanya berhari-hari terisolasi? Jembatan satu-satunya terputus, listrik padam, internet hilang. Tidak ada toko yang menjual kebutuhan pokok. Bagaimana caranya makan? Bagaimana rasanya rumah hanyut dan bertarung dengan dinginnya malam serta nyamuk hutan?” tulis Dinni dalam salah satu unggahan yang ia bagikan kepada Kompas.com.
“Rasa itulah yang sekarang dialami warga Ngalau Gadang,” imbuhnya.

Sebelum IMABAY bergerak, sukarelawan dari komunitas @Raun.mak sudah lebih dulu menembus jalur menuju wilayah terisolasi.

“Saya juga berkoordinasi dan berkolaborasi dengan mereka. Bantuan dari mereka ini yang datang paling awal,” kata Dinni.

Ketika laporan lapangan memastikan bahwa Ngalau Gadang benar-benar terputus, grup WhatsApp relawan berubah menjadi ruang komando darurat.

Tidak ada akses kendaraan, medan banyak tertutup longsor, bahkan jejak jalan setapak hilang di beberapa titik.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Evi Endri

Tags

Rekomendasi

Terkini

Pasbar di Sumbar Diguncang Gempa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 11:40 WIB

Masih Dibuka, Rekrutmen Bintara PK Pria TNI AL

Jumat, 17 Juli 2026 | 16:25 WIB

BMKG: Waspada Hujan Lebat di Sebagian Besar Riau

Kamis, 16 Juli 2026 | 09:23 WIB

BMKG: Cuaca Riau Hari Ini Relatif Kondusif

Selasa, 14 Juli 2026 | 09:00 WIB
X