BI Kalbar Dorong Jurnalis Kuasai AI, Etika Tetap Jadi Pegangan

photo author
Novrizon Burman, Riau Satu
- Sabtu, 13 September 2025 | 19:00 WIB
Haresti Asysy Amrihani saat memaparkan materinya pada pelatihan dan diskusi tentang Artificial Intelligence (AI), di Hotel Harris Seminyak, Bali, Jumat (12/9/2025). (f: istimewa)
Haresti Asysy Amrihani saat memaparkan materinya pada pelatihan dan diskusi tentang Artificial Intelligence (AI), di Hotel Harris Seminyak, Bali, Jumat (12/9/2025). (f: istimewa)

DENPASAR, RIAUSATU.COM — Bank Indonesia (BI) Kalimantan Barat mendorong jurnalis di daerah itu memahami sekaligus memanfaatkan teknologi artificial intelligence (AI) dalam kerja-kerja jurnalistik.

Meski begitu, BI menekankan bahwa etika dan prinsip profesi tetap harus dijadikan pegangan utama.

Pesan tersebut mengemuka dalam pelatihan bertajuk Optimalisasi Pemanfaatan AI dalam Jurnalisme yang digelar BI Kalbar bersama komunitas Belajarlagi di Hotel Harris Seminyak, Bali, Jumat (12/9/2025).

Puluhan jurnalis Kalimantan Barat mengikuti kegiatan ini dengan antusias.

Pemateri dan peserta foto bersama usai mengikuti pelatihan dan diskusi tentang Artificial Intelligence (AI), di Hotel Harris Seminyak, Bali, Jumat (12/9/2025). (f: istimewa)
Pemateri dan peserta foto bersama usai mengikuti pelatihan dan diskusi tentang Artificial Intelligence (AI), di Hotel Harris Seminyak, Bali, Jumat (12/9/2025). (f: istimewa)

Pelatihan menghadirkan Haresti Asysy Amrihani, praktisi media sekaligus kandidat doktor ilmu komunikasi Universitas Indonesia (UI).

Ia menjelaskan bahwa AI tidak sepatutnya dipandang sebagai ancaman yang akan menggantikan profesi wartawan, melainkan mitra yang dapat mendukung pekerjaan mereka sehari-hari.

“AI sangat membantu, mulai dari penerjemahan, editing foto dan video, hingga mencari ide penulisan. Namun, jurnalis tetap harus melakukan verifikasi ulang ke sumber yang kredibel. AI tidak boleh dipercaya sepenuhnya,” ujar Haresti.

Ia memaparkan perkembangan AI di dunia jurnalisme, praktiknya di sejumlah negara, hingga penerapannya pada media-media di Indonesia.

Menurut dia, AI dapat dipakai untuk mempercepat transkrip percakapan panjang atau dialog, sehingga jurnalis lebih mudah menyusun berita.

Meski bermanfaat, Haresti mengingatkan pentingnya kehati-hatian.

Ia merujuk pada Peraturan Dewan Pers Nomor 1 Tahun 2025 tentang Pedoman Penggunaan Kecerdasan Buatan dalam Karya Jurnalistik.

Aturan itu, menurut dia, masih bersifat umum sehingga wartawan harus berpegang pada etika dan standar profesi.

“Artinya, kendali tetap ada di tangan jurnalis. AI hanya alat bantu, bukan pengganti,” katanya yang juga aktif di PWI dan Forum Pemred SMSI.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Novrizon Burman

Tags

Rekomendasi

Terkini

BMKG: Hujan Masih Berpotensi Mengguyur Riau

Selasa, 26 Mei 2026 | 11:05 WIB
X