Puisi Wakapolda Riau Ketika Jossy Menyendiri Gema Suara Hutan di Tengah Peringatan Hari Bhayangkara ke-79

photo author
Daud Mahmud, Riau Satu
- Minggu, 22 Juni 2025 | 00:21 WIB
Wakapolda Riau, Brigjen Pol Andrianto Jossy Kusumo saat membacakan puisi.
Wakapolda Riau, Brigjen Pol Andrianto Jossy Kusumo saat membacakan puisi.

 

PEKANBARU, RIAUSATU.COM - Suasana berubah sunyi saat Wakapolda Riau, Brigjen Pol Andrianto Jossy Kusumo, naik ke panggung dan membacakan puisi karya Ustaz Abdul Somad (UAS) berjudul 'Ketika Jossy Menyendiri".

Puisi itu dibacakan dalam sebuah acara seni budaya dan sosial yang digelar di Rumah Singgah Tuan Kadi, Kecamatan Senapelan, Kota Pekanbaru sebagai bagian dari rangkaian kegiatan peringatan Hari Bhayangkara ke-79.

Acara ini memadukan lomba pantun, puisi, syair, cipta lagu, serta bakti kesehatan dan sosial untuk masyarakat Kota Pekanbaru.

Dengan latar Jembatan Sungai Siak I dan cahaya lampu yang temaram, Brigjen Jossy menyuarakan kegelisahan tentang rusaknya hutan dan punahnya satwa.

Bait kata-kata yang dilantunkan menggambarkan alam yang ditinggalkan, budaya yang meredup, dan manusia yang kehilangan arah.

"Ketika Meranti menjadi peti mati. Ketika Elang mengerang. Ketika Rajawali terikat tali. Ketika Gajah marah. Ketika Harimau dipukau," kata Jossy membacakan puisi di tengah panggung Rumah Singgah Tuan Kadi, Sabtu 21 Juni 2025 malam.

Puisi ini ditulis UAS dalam perjalanan malam dari Palangkaraya ke Tumbang Samba, dan menjadi refleksi mendalam tentang kerusakan lingkungan yang terus terjadi.

Tak hanya itu, puisi ini juga menyerukan kembali nilai-nilai Melayu, merawat bukan merusak, membimbing bukan menyesatkan.

"Pohon dimohon, kayu dirayu. Merangkul tidak memukul. Mengajak tidak mengejek. Bismillah kaki melangkah," ucap Brigjen Jossy.

Acara dihadiri oleh Kapolda Riau Irjen Pol Herry Heryawan, Walikota Pekanbaru Agung Nugroho, pendiri Tumbuh Institute Rocky Gerung, jajaran Pejabat Utama Polda Riau, serta perwakilan dari Forkopimda Riau.

Warga setempat, tokoh adat, budayawan, dan pelajar juga ikut meramaikan acara yang dikemas terbuka untuk umum.

Usai tampil, Brigjen Jossy menyebut puisi ini adalah bentuk pengingat bahwa menjaga hutan adalah bagian dari tugas moral dan budaya.

"Bukan hanya tugas negara atau aparat. Ini soal warisan, soal arah hidup kita sebagai Melayu yang berakar pada alam,” ujarnya.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Daud Mahmud

Tags

Rekomendasi

Terkini

BMKG: Hujan Masih Berpotensi Mengguyur Riau

Selasa, 26 Mei 2026 | 11:05 WIB
X