Ketika Ojol Jadi Target: GMDM Riau Menyusuri Ancaman Narkoba di Jalanan

photo author
Novrizon Burman, Riau Satu
- Selasa, 17 Juni 2025 | 09:42 WIB
Bakornas GMDM DPD Provinsi Riau menggandeng komunitas pengemudi transportasi daring menggelar penyuluhan bertajuk “Pencegahan Narkoba dan Antisipasi Kurir Narkoba", Senin, 16 Juni 2025. (f: istimewa)
Bakornas GMDM DPD Provinsi Riau menggandeng komunitas pengemudi transportasi daring menggelar penyuluhan bertajuk “Pencegahan Narkoba dan Antisipasi Kurir Narkoba", Senin, 16 Juni 2025. (f: istimewa)

Aroma kopi dari warung di sebelah kantor yang berada di Jalan Soekarno Hatta Pekanbaru masih menguar ketika sekelompok pengemudi ojek daring berkumpul. Tapi pagi itu bukan soal antrean order atau naiknya tarif aplikasi. Mereka datang untuk satu hal: membicarakan ancaman narkoba.

PEKANBARU, RIAUSATU.COM — Hari itu, Senin, 16 Juni 2025, bertepatan dengan peringatan Hari Anti Narkotika Internasional (HANI), Badan Koordinasi Nasional (Bakornas) Garda Mencegah dan Mengobati Bakornas (GMDM) DPD Provinsi Riau menggandeng komunitas pengemudi transportasi daring menggelar penyuluhan bertajuk “Pencegahan Narkoba dan Antisipasi Kurir Narkoba.”

Tempatnya di Kantor Maxim, Jalan Soekarno Hatta Pekanbaru. Isi diskusinya, memuat kegelisahan yang besar.

“Beberapa bulan lalu, kami dengar ada driver yang ditangkap karena tanpa sadar mengantar paket narkoba. Sejak itu, kami was-was,” kata Bobby Tanjung, Ketua Maxim Peduli Anti-Crime (MPAC), komunitas internal yang dibentuk pengemudi aplikasi Maxim untuk saling menjaga.

Menurut Bobby, tawaran menjadi "pengantar paket" kerap datang dari akun tak dikenal, dengan iming-iming bayaran tunai dan lokasi jemput yang mudah.

“Mereka mainnya halus. Bukan sembarang orang, tapi yang sudah lama narik dan dikenal. Itu yang kami takutkan,” ujarnya.

Itulah sebabnya, GMDM menganggap sektor transportasi daring sebagai titik rawan yang perlu disentuh secara langsung.

Sekretaris DPD GMDM Riau, Abu Bakar, menyebut penyuluhan ini sebagai bagian dari ikhtiar memperkuat benteng komunitas sipil menghadapi jaringan peredaran narkotika yang semakin licin.

“Jaringan narkoba kini tidak melulu lewat pelabuhan atau bandar udara. Mereka menyusup lewat keseharian, memanfaatkan celah ekonomi dan ketidaktahuan orang-orang biasa,” ujar Abu Bakar.

Data internal GMDM menyebut bahwa dari sejumlah kasus kurir narkoba yang ditangani kepolisian di Sumatera dalam dua tahun terakhir, sebagian pelaku tidak menyadari mereka sedang membawa barang terlarang.

“Modusnya beragam. Ada yang disuruh antar bungkusan, ada yang dititipkan tas. Karena iming-iming Rp300 ribu, orang bisa tergoda,” kata Romeo Napitupulu, Ketua Bidang Pencegahan dan Penyuluhan GMDM Riau.

Bagi Romeo, penyuluhan bukan semata menyampaikan bahaya narkoba, tapi menyadarkan orang tentang struktur ekonomi yang memungkinkan jebakan itu terjadi.

“Mereka menyasar yang lemah, yang tak punya pilihan. Kalau kita tak bangun kesadaran kolektif, maka mereka akan terus tumbuh,” katanya.

Kegiatan ini juga diikuti tim Srikandi GMDM, yang selama ini aktif dalam kampanye sosial dan pendampingan korban penyalahgunaan narkoba.

Mereka membagikan selebaran, stiker edukatif, dan memperagakan simulasi penolakan terhadap permintaan mencurigakan dari pelanggan.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Novrizon Burman

Tags

Rekomendasi

Terkini

BMKG: Hujan Masih Berpotensi Mengguyur Riau

Selasa, 26 Mei 2026 | 11:05 WIB
X