Puan menilai diperlukan kerja bersama, kolaborasi, gotong royong antar negara berupa kerjasama internasional, gotong royong antar pihak yang melibatkan berbagai stakeholders, dan gotong royong antar bidang, melalui pendekatan multi sektor yang melibatkan solusi keamanan, politik, ekonomi, sosial.
“Setiap negara memiliki kapasitas dan kapabilitas dalam menghadapi resiko ancaman krisis. Melalui kerja bersama, kolaborasi, dan gotong royong antar negara, diharapkan dapat meningkatkan daya respons setiap negara untuk menanggulangi permasalahan global,” ungkap Puan.
“Hal ini dapat kita lakukan hanya bila kita memperlakukan Sidang Forum P20 ini dengan komitmen yang kuat, untuk menyelamatkan nasib dunia yang ditentukan oleh keputusan- keputusan yang akan kita diambil,” sambungnya.
Puan mengatakan, masyarakat di seluruh negara memiliki harapan besar agar P20 berkontribusi dalam menyelesaikan berbagai gejolak dan tantangan global yang melanda dunia. P20 sendiri mengambil tema ‘Stronger Parliament for Sustainable Recovery’ yang sejalan dengan tema Presidensi G20 Indonesia ‘Recover Together, Recover Stronger’.
“Kekuatan parlemen, P20, adalah mewakili suara rakyat global. P20 memberikan legitimasi atas upaya Pemerintah, dalam menjalankan komitmen kebijakan luar negeri, pemulihan pascapandemi dan merespons tantangan global,” jelas Puan.
P20 dibentuk sebagai salah satu Engagement Group G20 guna membawa elemen demokrasi, dan memperkuat akuntabilitas agenda G20. P20 disebut memperkuat agenda G20 untuk konsolidasi pemulihan global yang inklusif, resilien, dan hijau.
Tak hanya itu, P20 pun dapat berperan untuk memberikan perspektif parlemen, memberikan kontribusi dalam menjembatani perbedaan antar negara (parlement is part of the solution), dan memperkuat interaksi dan jejaring antara para Ketua parlemen negara-negara G20. Bahkan, sebut Puan, dapat meluas kepada negara-negara mitra lainnya.
“Parlemen memiliki kesempatan untuk menyampaikan prespektif dari aspirasi rakyat yang menginginkan adanya ́harapan baru ́ (new hope) dalam mengelola tata dunia yang lebih humanis, ramah, nyaman, dan sejahtera bagi semua orang,” ujarnya.
Dalam mewujudkan komitmen parlemen untuk memberikan sebuah harapan baru, Puan menilai dibutuhkan komitmen kerja bersama antar negara dalam membangun kemajuan bersama. Kemudian juga dalam membangun nilai global yang mempromosikan perdamaian, toleransi, dan solidaritas dalam persaudaraan, serta agenda kerja bersama antar negara yang nyata.
“Kita memiliki kesadaran bahwa diperlukan kerja bersama dalam mengatasi permasalahan global. Namun di saat bersamaan, kita melihat dunia yang semakin terbelah. Kita melihat masing-masing negara melangkah secara unilateral, kita menyaksikan meningkatnya rivalitas,” tukas Puan.
“Kolaborasi, kerja bersama, bukan untuk mengejar agar menjadi winner takes all, tetapi kita inginkan all be winner. Komitmen antar negara untuk kemajuan bersama, menjadi harapan baru, sebagai aspirasi rakyat, yang semakin menghendaki dunia memiliki wajah yang humanis,” imbuh mantan Menko PMK itu.
Puan kembali menyuarakan semangat dan prinsip ‘no one left behind’ untuk kemajuan bersama. Menurutnya, budaya damai dan toleran (culture of peace and tolerance) semakin diperlukan dalam memperkuat interaksi antar bangsa dan negara.
“Kerja bersama antar parlemen dapat berperan penting untuk menyebarkan budaya damai dan toleran, yang semakin diperlukan dalam menghadapi ketegangan geopolitik saat ini. Dialog dan diplomasi dalam penyelesaian berbagai masalah global, menjadi protokol yang utama dalam setiap kerja bersama antar negara,” papar Puan.
Cucu Proklamator RI Bung Karno itu menyatakan, kerja bersama antar negara pada akhirnya membutuhkan agenda kerja yang nyata yang dapat dimulai melalui langkah-langkah kecil untuk sampai pada tujuan yang besar. Puan menyebut, pertemuan P20 diharapkan dapat menetapkan sebuah kesepakatan bersama yang dapat mendorong adanya aksi nyata (concrete action) penyelesaian berbagai permasalahan global.
“Indonesia, dengan semangat gotong royongnya, siap, mau dan mampu untuk berkolaborasi dengan dunia global dalam membangun dunia dengan harapan baru, dunia dengan kemajuan bersama; dunia yang lebih humanis, dunia yang lebih baik, dunia yang sejahtera, tentram dan indah,” tegasnya.