JAKARTA, RIAUSATU.COM -
“Orang yang divaksinasi harus terus mempraktikkan perilaku pencegahan dan tidak mengekspos diri mereka pada situasi yang kemungkinan akan menyebabkan paparan virus,” kata Ogunseitan.
Salah satu mencegah penyebaran cacar monyet, menurut Ogunseitan, yakni menghindari kontak kulit ke kulit dengan orang-orang yang mengalami ruam pada kulitnya. Kemudian menghindari kontak dengan benda-benda yang sudah pernah tersentuh penderita cacar monyet.
Tak hanya itu, biasakan untuk selalu mempraktikkan kebersihan tangan yang baik juga dapat membantu mencegah penularan, misal sering mencuci tangan.
Sementara Fichtenbaum mengatakan bahwa pihaknya masih belajar tentang bagaimana terobosan infeksi umum, dan kami tidak memiliki rekam jejak terbaik untuk mencegah penyebaran penyakit menular selama keadaan darurat kesehatan masyarakat. “Waktu akan memberi tahu berapa banyak terobosan yang terjadi,” kata Fichtenbaum. WHO mengumumkan awal pekan ini bahwa terobosan terbaru dari infeksi ini telah dilaporkan.
Terutama pada orang yang telah divaksinasi terhadap cacar monyet. Sudah ada data terbatas yang tersedia tentang kemanjuran vaksin cacar monyet. Akan tetapi perlu waktu untuk memahami seberapa efektif vaksin tersebut dalam mencegah infeksi.
Sementara itu, para ahli kesehatan merekomendasikan agar individu yang berisiko menghindari perilaku berisiko tertular virus sampai mereka sudah divaksinasi sepenuhnya.
Sebagaimana diketahui, seperti dilansir Pikiran-Rakyat.com, penyebaran cacar monyet hingga kini menjadi ancaman baru bagi penduduk di dunia. Bahkan, jumlah kasus cacar monyet di sejumlah negara dikabarkan mengalami lonjakan.
Indonesia sudah melaporkan kasus pertama cacar monyet, disusul empat orang lainnya yang masih menunggu hasil penelitian untuk memastikan kepastian virus tersebut. Menghadapi kemungkinan lonjakan kasus, pemerintah tengah menyiapkan vaksin.
Meski belum terjadi lonjakan kasus di Indonesia, cacar monyet ternyata menyebar melalui kontak orang yang pernah dekat termasuk tetapi tidak terbatas pada kontak intim dan seksual. Hal ini pernah disorot oleh organisasi kesehatan dunia atau WHO, terutama para kaum gay yang penularannya sangat rentan.***