JAKARTA, RIAUSATU.COM - Upaya pengentasan kemiskinan di desa selama ini identik dengan bantuan tunai, pembangunan infrastruktur, dan program kredit usaha rakyat.
Namun, pendekatan tersebut dinilai belum sepenuhnya menyentuh akar persoalan kemiskinan.
Hal ini diangkat dalam buku “Kemiskinan? Modal Sosial sebagai Kunci Pengurangan Kemiskinan Perdesaan Indonesia” karya Dr. Ahmadriswan Nasution dan Prof. Dr. Achmad Tjachja Nugraha.
Prof. Achmad Tjachja, Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, menegaskan bahwa kemiskinan tidak hanya soal kekurangan modal ekonomi.
Menurutnya, masyarakat desa memiliki kekuatan besar yang sering diabaikan, yaitu modal sosial: kepercayaan, gotong royong, solidaritas, dan jaringan komunitas.
“Selama ini kita terlalu fokus pada bantuan material. Padahal, masyarakat desa punya kekuatan sosial yang luar biasa,” ujarnya, seperti rilis yang diterima riausatu.com.
Buku ini menjelaskan bahwa modal sosial mencakup kepercayaan antarindividu, partisipasi kolektif, kepatuhan terhadap norma bersama, serta jaringan sosial yang solid.
Ketika unsur‑unsur ini terpelihara, masyarakat lebih mampu bertahan menghadapi tekanan ekonomi dan krisis.
Rumah tangga dengan jaringan sosial kuat cenderung lebih cepat bangkit karena memiliki akses informasi, dukungan moral, dan bantuan nyata dari komunitas.
Prof. Achmad menekankan bahwa masyarakat desa tidak boleh diposisikan hanya sebagai objek penerima bantuan.
Sebaliknya, mereka harus dilihat sebagai aktor utama pembangunan dengan modal sosial sebagai fondasi.
Dr. Ahmadriswan menambahkan, kebijakan publik harus diselaraskan dengan kekuatan sosial lokal yang sudah tumbuh di masyarakat.
“Rumah tangga desa harus dipandang sebagai aktor utama pengurangan kemiskinan, bukan sekadar objek kebijakan,” tegasnya.
Pendekatan berbasis modal sosial diyakini mampu melengkapi kebijakan ekonomi sehingga program pengentasan kemiskinan lebih partisipatif, berkelanjutan, dan berdampak nyata.