Juni 12 Wilayah Terancam Kekeringan, Bagaimana dengan Riau?

photo author
Evi Endri, Riau Satu
- Sabtu, 1 Juni 2024 | 15:52 WIB
Ilustrasi kekeringan. (f: kompas.com)
Ilustrasi kekeringan. (f: kompas.com)

JAKARTA, RIAUSATU.COM - Berbagai wilayah di Indonesia berpotensi mengalami kekeringan saat musim kemarau pada Juni 2024. Hal tersebut disampaikan oleh Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati dalam konferensi pers daring, Selasa (28/5/2024), dilansir kompas.com

Dwikorita menjelaskan, wilayah yang berpotensi kekeringan memiliki potensi curah hujan bulanan yang sangat rendah kurang dari 50 mm per bulan.

“Potensi kekeringan untuk beberapa bulan ke depan prediksi curah hujan dan sifat hujan bulanan menunjukkan bahwa kondisi kekeringan selama musim kemarau akan mendominasi hingga September,” kata Dwikorita.

“Daerah dengan potensi curah hujan sangat rendah kurang dari 50 mm per bulan perlu mendapatkan perhatian khusus untuk mitigasi dampak kekeringan,” tambahnya.

Wilayah yang berpotensi mengalami kekeringan pada Juni-Juli 2024, yakni sebagian Lampung, Banten, jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Timur, dan Bali. Selain itu, wilayah Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Selatan bagian selatan, dan Papua bagian selatan juga berpotensi kekeringan pada Juni-Juli 2024.

Dilansir dari laman resmi BMKG, Dwikorita menerangkan bahwa sebagian besar wilayah di Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara sudah mengalami hari tanpa hujan selama 21-30 hari atau lebih.

Analisis curah hujan dan sifat hujan BMKG juga menunjukkan, kondisi kering sudah mulai memasuki wilayah Indonesia, khususnya di bagian selatan khatulistiwa.

“Sebagian wilayah Indonesia sebanyak 19 persen dari zona musim sudah masuk musim kemarau dan diprediksi sebagian besar wilayah Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara segera menyusul memasuki musim kemarau dalam tiga dasarian ke depan,” jelas Dwikorita.

Dalam konferensi pers yang sama, Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan mengatakan, indeks ENSO atau El Nino sebesar +0.21 dalam kondisi netral berdasarkan hasil pemantauan terhadap anomali iklim global di Samudra Pasifik.

El Nino adalah fenomena memanasnya suhu muka laut di Samudra Pasifik bagian tengah hingga timur yang menyebabkan Indonesia menjadi kering dan curah hujan berkurang.

Ardhasena menerangkan, kondisi indeks ENSO yang sudah berada pada level netral selama dua dasarian diprediksi akan terus netral sampai Juni-Juli 2024.

Nantinya, ENSO akan digantikan oleh La Nina yang berlangsung lemah sepanjang Juli, Agustus, dan September 2024. Ardhasena menyampaikan, lemahnya La Nina tidak berdampak bagi musim kemarau Indonesia.

"Sedangkan di Samudra Hindia, pemantauan suhu muka laut menunjukkan kondisi IOD Netral namun ada kecenderungan beralih ke fase IOD Positif,” imbuhnya.***

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Evi Endri

Tags

Rekomendasi

Terkini

Penguatan AD/ART, PWI Pusat Sosialisasi Lima PO

Kamis, 16 Juli 2026 | 09:20 WIB
X