JAKARTA, RIAUSATU.COM – PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI mengatakan mendukung penuh program Pemerintah mewujudkan Net Zero Emission (NZE) pada 2060.
Keinginan Pemerintah ini dapat direalisasikan dengan peran serta semua pihak, tak terkecuali korporasi besar seperti BRI.
Demikian disampaikan Direktur Kepatuhan BRI, Ahmad Solichin Lutfiyanto, dalam keterangan resminya diterima redaksi media siber ini, Rabu (4/10/2023).
"Persero (BRI) memiliki strategi khusus dalam mendukung secara langsung dan berperan aktif merealisasikan visi pemerintah tersebut," ujarnya.
Dia mengatakan perseroan optimistis dan yakin bahwa target NZE tersebut akan tercapai, apabila seluruh pihak berkolaborasi secara aktif.
“Bicara apa peran BRI dalam pencapaian target net zero emission 2060, kami sudah mempunyai policy namanya ESG roadmap. Di mana BRI akan mencapai NZE di tahun 2050" sebut Solichin.
Menurutnya, kebijakan itu tentu harus diimplementasikan. "Kita juga sudah punya berbagai strategi, inisiatif, dan program bagaimana mengimplementasikan strategi itu baik di bisnis maupun di operasional,” lanjutnya.
Secara bertahap, BRI dalam ESG roadmap-nya dapat menurunkan emisi sekitar 30%-40% di tahun 2030, sejalan dengan target Enhanced-NDC Indonesia.
Solichin mencontohkan, porsi BRI dalam mencapai NZE Indonesia di tahun 2060, salah satunya adalah aktif dalam penyaluran kredit kepada green sector serta partisipasi dalam inisiatif Pemerintah, seperti pada perdagangan karbon perdana pada tanggal 26 September yang lalu.
“Kalau komitmen kami, tentu ke depan BRI akan terus memperbesar porsi dari pembiayaan hija," tegas Solichin.
Secara umum, Perseroan telah memiliki komitmen yang tinggi terhadap pembiayaan berkelanjutan, yaitu pembiayaan yang terdiri dari pembiayaan kepada UMKM dan kepada sektor hijau.
Total pembiayaan sebesar Rp732,3 triliun atau 67,2% dari total pembiayaan bank. Sebagai bank yang fokus melayani UMKM, BRI memiliki porsi pembiayaan UMKM sebesar Rp652,9 triliun, sementara pembiayaan ke sektor hijau sebesar Rp79,4 triliun.
Pada kesempatan sama, Solichin menjelaskan adanya tantangan bank dalam menyalurkan pembiayaan hijau.
Bank itu adalah highly regulated industry, karena bank adalah bisnis yang berisiko sangat tinggi, sehingga BRI harus menerapkan best practice dalam risk management.
Dalam konteks ekonomi hijau, ada dua risiko utama yang harus di-manage, itu adalah physical risk dan transition risk. Challenge terbesar buat bank itu adalah bagaimana mengelola transition risk.