Afrika Bersiap Umumkan Status Mpox Jadi Darurat Benua

photo author
Evi Endri, Riau Satu
- Sabtu, 10 Agustus 2024 | 17:09 WIB
Ilustrasi penyakit cacar monyet. (f: kompas.com)
Ilustrasi penyakit cacar monyet. (f: kompas.com)

AFRIKA, RIAUSATU.COM - Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (Centers for Disease Control and Prevention/CDC) Afrika bersiap untuk meningkatkan status monkeypox (Mpox) atau cacar monyet segera.

Dilansir dari NPR pada Jumat (9/8/2024), seperti dirilis kompas.com, CDC Afrika mengatakan bahwa pihaknya akan mengumumkan status Mpox menjadi "darurat kesehatan masyarakat yang mengancam keamanan benua" paling cepat pekan depan.

"Semua yang kami lakukan hari ini karena kami terlambat (menangani) selama masa Covid dan hari ini kami tidak ingin terlambat lagi. Kami tidak ingin bergantung. Kami sudah mengambil tindakan yang tepat (sekarang)," kata Direktur Jenderal CDC Afrika Jean Kaseya mengatakan pada Kamis (8/8/2024).

Melansir Reuters pada Kamis (8/8/2024), kasus Mpox atau cacar monyet di Afrika telah meningkat sebesar 79 persen dari 2022-2023 dan sebesar 160 persen dari 2023-2024. "Ini adalah salah satu aspek yang membuat kami khawatir," kata Kaseya.

Kaseya menambahkan bahwa dirinya akan melakukan panggilan telepon dengan para pemimpin Uni Afrika dan Komisi Uni Afrika pada Selasa (13/8/2024) untuk mendapatkan restu dan arahan guna mendeklarasikan keadaan darurat benua.

CDC berharap dengan peningkatan status Mpox menjadi darurat benua dapat mengoordinasikan respons terhadap penyakit di lintas perbatasan dengan lebih baik.

Ia mengungkapkan bahwa langkah ini juga bisa membuat negara-negara anggota wajib untuk memberitahukan kasus baru Mpox kepada badan kontinental.

Ia menambahkan bahwa pihaknya telah melakukan pembicaraan dengan para eksekutif perusahaan farmasi Jerman BioNTech tentang peningkatan produksi vaksin setelah kemungkinan deklarasi status Mpox sebagai darurat benua pada minggu depan.

Penyebaran Mpox sudah lama masuk ke Afrika dan menyebabkan peningkatan kasus dari tahun ke tahun, tetapi baru sekarang di benua terbesar di dunia ini mengalami lonjakan kasus yang sangat tinggi.

Sejak awal 2024 ini, wabah cacar monyet parah terjadi di Republik Demokratik Kongo dengan dilaporkan ada lebih dari 14.000 kasus dan 511 kematian.

Kaseya mengatakan bahwa sekitar 70 persen kasus di Kongo terjaadi pada anak-anak di bawah usia 18 tahun. "Ini adalah peringatan besar bagi dunia," ucapnya. "Kami kehilangan banyak pemudad di Afrika," lanjutnya.

Para ahli mengatakan tingginya jumlah kasus dan kematian di kalangan anak-anak kemungkinan terjadi karena mereka tidak mendapatkan vaksin cacar monyet sejak 1980.

Sementara itu, 40 persen anak-anak yang di hidup di wilayah tersebut mengalami kekurangan gizi, sehingga mudah terinfeksi virus Mpox.***

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Evi Endri

Tags

Rekomendasi

Terkini

X