PEKANBARU, RIAUSATU.COM — Satuan Tugas Penertiban Kawasan Hutan (Satgas PKH) mulai melakukan operasi di Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN), Provinsi Riau.
Operasi ini menjadi langkah awal penertiban kawasan hutan konservasi yang selama bertahun-tahun dikuasai dan digarap secara ilegal oleh individu maupun kelompok masyarakat.
Satgas PKH bahkan merencanakan penyitaan kebun sawit yang berada dalam kawasan taman nasional tersebut.
Pantauan di lapangan menunjukkan, Satgas PKH telah memasang sejumlah spanduk peringatan di berbagai titik strategis dalam kawasan TNTN, terutama di daerah Toro Jaya.
Spanduk tersebut memuat larangan pengelolaan dan transaksi jual beli lahan di dalam kawasan hutan konservasi.
"Satgas sudah turun ke TNTN. Banyak spanduk peringatan yang sudah dipasang, khususnya di daerah Toro Jaya," ujar Andi, salah seorang warga setempat, dilansir Sabang Merauke, Ahad, 8 Juni 2025.
Langkah ini merupakan bagian dari tahapan sosialisasi sebelum dilakukan penegakan hukum secara menyeluruh.
Namun, rencana penertiban tersebut menimbulkan kekhawatiran di kalangan masyarakat yang telah lama menggantungkan hidup pada perkebunan kelapa sawit di kawasan hutan tersebut.
"Masyarakat sekarang cemas dan khawatir. Padahal, mereka sudah mengelola kebun sawit cukup lama. Warga khawatir kebunnya disita," kata Andi.
Informasi resmi mengenai rencana penertiban ini disampaikan oleh Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Kejaksaan Agung, Febrie Ardiansyah, dalam rapat kerja bersama Komisi III DPR RI di Kompleks Parlemen, Jakarta, beberapa waktu lalu.
Dalam forum tersebut, Febrie menegaskan bahwa operasi Satgas PKH akan menyasar kawasan TNTN.
Febrie merupakan Ketua Pelaksana Satgas PKH yang dibentuk berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 5 Tahun 2025 tentang Penertiban Kawasan Hutan.
Ketua Pengarah Satgas ini dijabat oleh Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin.
Beredar informasi, pada Selasa, 10 Juni 2025, tim Satgas PKH akan kembali turun langsung ke kawasan TNTN.
Rombongan dijadwalkan mendarat di Pangkalan Udara Roesmin Nurjadin, Pekanbaru, dan melanjutkan perjalanan ke TNTN menggunakan helikopter.