hukum

'Mister Gasoline' Pulang Diam-diam, CERI: Ada Apa di Balik Kasus Migas

Minggu, 1 Juni 2025 | 10:39 WIB
(Dari kiri) Moch Reza Chalid, Gading Ramadhan Joedo, dan Muhammad Kerry Ardianto. (f: internet)

JAKARTA, RIAUSATU.COM — Dalam suasana lengang akibat libur panjang Hari Raya Waisak pada 12 Mei 2025, sosok yang dikenal sebagai “Mister Gasoline”, Moch Reza Chalid (MRC), dikabarkan sempat kembali ke Jakarta.

Kabar ini mencuat dari pernyataan Direktur Eksekutif Center of Energy and Resources Indonesia (CERI), Yusri Usman, Ahad (1/6/2025), di Jakarta.

Menurut Yusri, kedatangan Reza ke Tanah Air tidak banyak diketahui publik, namun diduga kuat berkaitan dengan upaya penyelamatan kepentingan bisnisnya, termasuk dua orang kepercayaannya yang kini menjadi tahanan Kejaksaan Agung: Muhammad Kerry Ardianto (anak MRC), Direktur Utama PT Navigator Khatulistiwa, dan Gading Ramadhan Joedo, Komisaris Utama PT Jenggala Maritim dan Dirut PT Orbit Terminal Merak.

"Selain menyelamatkan dua orang kepercayaannya, diduga MRC juga melakukan lobi dengan sejumlah pihak penting untuk memastikan jaringan bisnisnya tetap eksis, hanya berganti wajah di permukaan," ujar Yusri.

Yusri menduga, keberadaan MRC di Jakarta berlangsung di bawah perlindungan "orang kuat" yang menjamin dirinya tak akan tersentuh oleh aparat penegak hukum (APH), terutama Kejaksaan Agung.

Ia pun menyinggung dugaan keterlibatan pejabat tinggi yang selama dua dekade disebut menerima aliran dana dari MRC.

“Kalau dia ditangkap, bukan tak mungkin akan terbongkar siapa saja pejabat yang telah menerima 'saweran' sejak 2004,” ucap Yusri.

Ia pun menyoroti munculnya pesimisme atas keseriusan Kejaksaan Agung dalam menangani perkara besar tata kelola minyak dan gas (migas) ini.

"Yang awalnya kami optimistis, kini justru kami khawatir semuanya akan berujung antiklimaks dengan kompromi di belakang layar," ujarnya.

Kelangkaan BBM dan Dugaan Skenario

CERI juga menyoroti kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) di Kalimantan Timur, wilayah yang selama ini dijuluki “kota minyak” karena keberadaan Kilang Balikpapan.

Pertamina sempat menyebut BBM yang tersedia tidak sesuai spesifikasi (off spec), namun Yusri mempertanyakan kebenaran klaim itu.

"Kalau BBM di Kilang Balikpapan tidak sesuai spesifikasi, seharusnya stok dari kilang bisa segera digeser. Bukankah kualitasnya dijamin oleh COQ (Certipicate of Quality) dan COA (Certipicate of Assurance)?" ujarnya.

Ia menduga, kelangkaan ini merupakan bagian dari skenario untuk kembali melibatkan Daftar Mitra Usaha Terdaftar (DMUT) yang sebenarnya telah di-blacklist oleh Kejaksaan Agung dalam proses pengadaan BBM dan minyak mentah di Pertamina Patra Niaga (PPN) dan Pertamina Kilang Internasional (KPI).

Dalam tender pengadaan BBM jenis Pertalite dan Pertamax untuk Juli–Desember 2025, CERI mencatat vendor dari Singapura menawarkan harga yang lebih mahal 60–70 sen dolar AS per barel dibanding periode sebelumnya.

Halaman:

Tags

Terkini

Ini Kata Menko Yusril soal RUU Perampasan Aset

Kamis, 16 Juli 2026 | 22:10 WIB