hukum

Mengulik Peran Sugar Group dalam Skandal Suap Pejabat MA Zarof Ricar

Kamis, 22 Mei 2025 | 12:29 WIB
Vice President PT Sweet Indolampung, Purwanti Lee, dan Gunawan Yusuf, Direktur Utama Sugar Group Companies (SGC). (f: internet)

Dari uang Rp70 miliar yang mengalir ke pejabat Mahkamah Agung, jejaknya mengarah ke perusahaan raksasa gula yang punya pengaruh di Lampung dan kekuatan politik senyap: Gulaku.

JAKARTA, RIAUSATU.COM – Suasana ruang rapat Komisi III DPR RI di Gedung Parlemen, Selasa siang, 20 Mei 2025, mendadak menghangat ketika Ketua Komisi III, Habiburokhman, angkat bicara.

Politikus Gerindra itu secara lugas menyebut nama besar yang selama ini jarang disentuh lembaga penegak hukum: Sugar Group Companies (SGC).

Perusahaan raksasa produsen merek gula ternama Gulaku itu diduga punya andil dalam pusaran suap eks pejabat Mahkamah Agung, Zarof Ricar.

“Kalau mau bongkar betul, jangan berhenti di permukaan. Periksa siapa pemberi uang. Ada clue penting soal Gulaku,” kata Habiburokhman lantang.

Pernyataan itu mengacu pada pengakuan mengejutkan Zarof Ricar dalam persidangan. Zarof, yang sempat menjabat Kepala Biro Hukum dan Humas MA, mengaku menerima Rp70 miliar untuk membantu perkara perdata sengketa gula di Mahkamah Agung.

Uang itu datang bertahap: Rp50 miliar saat kasasi, dan tambahan Rp20 miliar saat proses Peninjauan Kembali.

Uang itu diduga untuk mengurus perkara sengketa antara Sugar Group dan PT Mekar Perkasa, yang juga melibatkan perusahaan raksasa Jepang, Marubeni Corporation.

Pemberinya, menurut Zarof, adalah seorang perempuan bernama “Nyonya Lee”—yang belakangan diketahui merujuk pada Purwanti Lee, Vice President PT Sweet Indolampung, anak usaha SGC.

Nama Gunawan Yusuf, Direktur Utama SGC, juga mencuat.

Ia disebut dalam laporan masyarakat ke KPK sebagai tokoh utama di balik aliran dana yang disebut-sebut demi menyelamatkan kepentingan bisnis SGC dalam sejumlah perkara hukum.

Kekuasaan di Balik Gula

Sugar Group bukan perusahaan biasa. Dengan wilayah operasi utama di Lampung, grup usaha ini menguasai ribuan hektare kebun tebu dan infrastruktur industri gula.

Produk utamanya, Gulaku, menguasai pasar ritel nasional. Namun yang kerap luput dari sorotan publik adalah kekuatan politik dan ekonominya di daerah basis.

“Di Lampung, SGC disebut-sebut punya pengaruh dalam pilkada. Banyak yang percaya tanpa restu mereka, kandidat sulit menang,” ujar seorang mantan pejabat daerah yang mewanti-wanti namanya tak disebut.

Halaman:

Tags

Terkini

Ini Kata Menko Yusril soal RUU Perampasan Aset

Kamis, 16 Juli 2026 | 22:10 WIB