PELALAWAN, RIAUSATU.COM — Ketegangan kembali membara di kawasan Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN), Kabupaten Pelalawan Provinsi Riau.
Belasan anggota Satuan Tugas Penertiban Kawasan Hutan (Satgas PKH) terpaksa angkat kaki dari lokasi penertiban setelah diadang dan diprovokasi massa.
Di balik aksi pengusiran itu, muncul tiga nama yang diduga menjadi dalang: Andriko Butar Butar, Sianturi—yang disebut sebagai mantan anggota TNI, dan Antonius Sinaga yang dikenal dengan julukan Si Naga Mata Satu.
Kejadian itu bermula ketika Satgas PKH melakukan penertiban terhadap kebun sawit ilegal milik Rudianto Sihombing alias Pablo di dalam kawasan TNTN.
Aksi penertiban sempat mendapat penolakan dari sekelompok orang yang mengaku warga.
Meski sempat mundur karena kalah jumlah, kelompok itu kembali dengan dukungan massa yang lebih besar.
Informasi dari lapangan menyebutkan, setelah mundur, Si Naga Mata Satu diduga menggelar orasi provokatif menggunakan pengeras suara di sebuah pasar, menyerukan agar warga “mengusir Satgas PKH dari kampung mereka.”
Seruan itu memantik emosi massa yang kemudian berbalik menghadang Satgas PKH hingga petugas terpaksa meninggalkan lokasi.
Ironisnya, sebagian besar massa yang terlibat bukan penduduk asli Dusun VI Medang Raya Lestari, melainkan orang-orang yang diduga sengaja didatangkan dan diarahkan oleh ketiga tokoh tersebut.
Situasi ini memicu kekhawatiran soal keterlibatan aktor luar yang menunggangi konflik demi kepentingan pribadi atau kelompok tertentu.
Juru Bicara Lembaga Adat Negeri (LAN) Muhammadun menyesalkan insiden tersebut. Ia menegaskan pentingnya negara bersikap tegas.
“Negara boleh mengalah, tapi jangan kalah oleh pembangkang dan perambah hutan TNTN,” ujarnya, dilansir wartarakyatonline, Jumat, 18 Juli 2025.
Hingga berita ini diposting, aparat penegak hukum belum mengambil tindakan tegas terhadap para provokator.
Kondisi di TNTN pun masih rawan memicu bentrokan lanjutan jika langkah pengamanan yang terukur tidak segera dilakukan. ***