MADINAH, RIAUSATU.COM - Keterbatasan fisik bukan berarti keterbatasan mimpi. Itulah yang dibuktikan oleh Jufriadi, seorang pria asal Desa Sungai Paku, Kecamatan Kuantan Singingi (Kuansing), Riau.
Meski hanya memiliki satu kaki, semangatnya membawa Jufriadi terbang ke Tanah Suci untuk menunaikan ibadah haji tahun ini.
Jufriadi tergabung dalam Kloter 8 Embarkasi Batam. Keberangkatannya kali ini terasa begitu emosional karena ia berangkat untuk menggantikan posisi almarhum sang ayah.
"Sampai sekarang masih terasa mimpi. Tidak terlalu yakin dipanggil ke sini. Tapi dengan kuasa Allah, Allah panggil ke sini," ujar Jupriyadi di Bandara Prince Mohammad bin Abdul Aziz, Madinah.
Kondisi fisik Jufriadi berubah sejak tahun 2004 silam. Saat itu, ia mengalami kecelakaan tragis sepulang sekolah yang mengakibatkan kaki kanannya harus diamputasi. Namun, kehilangan satu kaki tidak lantas membuatnya menarik diri dari dunia luar.
Di kampung halamannya, Desa Sungai Paku, Jufriadi dikenal sebagai sosok yang aktif. Siapa sangka, dengan keterbatasan yang ada, ia adalah seorang pelatih sepak bola. Ia mendedikasikan waktunya untuk melatih anak-anak di Sekolah Sepak Bola (SSB) Tuah Degi.
"Sehari-hari saya melatih SSB Tuah Degi di Desa Sungai Paku" tuturnya.
Menjelang keberangkatan ke Arab Saudi, Jufriadi sadar bahwa ibadah haji memerlukan fisik yang kuat. Ia pun melakukan persiapan mandiri yang terbilang unik namun konsisten.
Setiap hari, ia rutin melakukan jalan kaki dengan kruk (tongkat) mengelilingi lapangan bola tempatnya biasa melatih anak-anak SSB. Hal ini ia lakukan agar fisiknya terbiasa dengan mobilitas tinggi saat menjalani rangkaian ibadah haji nanti.
"Persiapan fisik paling-paling jalan kaki, keliling lapangan bola. Insya Allah saya yakin menjalankan ibadah haji, Allah kuatkan," ucapnya optimis.
Bagi Jufriadi, panggilan ke Baitullah adalah sebuah mukjizat. Di Tanah Suci nanti, ia sudah menyiapkan serangkaian doa, baik untuk almarhum ayahnya maupun untuk rekan-rekan sesama jemaah.