Pakar Sebut Indonesia Mengalami "Kelaparan Tersembunyi"

photo author
Evi Endri, Riau Satu
- Senin, 19 September 2022 | 15:44 WIB
ILustrasi. (f: Pikiran-Rakyat.com)
ILustrasi. (f: Pikiran-Rakyat.com)

JAKARTA, RIAUSATU.COM - Guru Besar Ilmu Gizi Fakultas Ekologi Manusia IPB University Prof. Drajat Martianto mengatakan, di Indonnesia sedang terjadi apa yang disebut dengan "kelaparan tersembunyi", meskipun secara umum kondisi ketahanan pangan Indonesia masih tergolong baik.

Penyebabnya, menurut Martianto, saat ini terjadi penurunan ketahanan pangan di Indonesia. "Posisi Indonesia di Global Food Security Index (GFSI) mengalami penurunan setelah pandemi Covid-19," kata Martianto.

Martianto berpendapat bahwa saat ini Indonesia tengah menghadapi triple burden of malnutrition atau tiga masalah gizi sekaligus.

Tiga masalah gizi tersebut meliputi gizi kurang (stunting dan wasting), obesitas, dan kurang gizi mikro (KGM) yang sering disebut sebagai kelaparan tersembunyi.

Dirinya mengungkapkan bahwa kurang energi dan protein bukan lagi tantangan terbesar bangsa Indonesia, tetapi kelaparan tersembunyi atau hidden hunger.

Kelaparan tersembunyi adalah defisiensi zat gizi mikro, khususnya zat besi,iodium, asam folat, seng, vitamin A, dan zat gizi mikro lainnya.

Kemudian, Martianto menjelaskan penelitian yang menunjukkan bahwa hanya ada satu persen rakyat Indonesia yang tidak mampu mengakses pangan makro yang mengandung karbohidrat.

Namun, ada hampir 50 persen penduduk Indonesia yang kekurangan sayuran, buah-buahan, pangan hewani, dan kacang-kacangan.

Martianto mengungkapkan penelitian yang menunjukkan bahwa satu dari dua penduduk di Indonesia mengalami kelaparan tesembunyi karena tidak mampu membeli pangan hewani, buah, dan sayuran yang mengandung zat gizi mikro.

Ia menjelaskan bahwa peristiwa ini disebut kelaparan tersembunyi karena seringkali tanda-tandanya tidak muncul. Namun, sesungguhnya, dampak yang diakibatkannya sangat besar.

"Zat gizi mikro telah terbukti sebagai unsur gizi penting untuk peningkatan produktivitas kerja, kecerdasan, dan imunitas," ujar Martianto, sebagaimana dilansir Pikiran-Rakyat.com.

Indonesia mengalami kerugian lebih dari 50 triliun rupiah secara nasional dari rendahnya produktivitas kerja yang disebabkan oleh Anemia Gizi Besi (AGB). Angka yang tercatat ini belum termasuk biaya kesehatan akibat defisiensi gizi mikro parah dan berbagai masalah lainnya.

Martianto mengungkapkan bahwa masalah kurangnya zat gizi mikro dapat diatasi dengan penganekaragaman pangan, suplementasi, dan fortifikasi pangan dan sanitasi lingkungan. Fortifikasi atau penambahan zat gizi tertentu pada pangan telah terbukti berhasil dalam menurunkan kelaparan tersembunyi, juga sangat cost-effective.

Ia berpendapat bahwa umumnya di berbagai negara, biaya fortifikasi pangan untuk menanggulangi kurangnya iodium, vitamin A dan zat besi ini kurang dari 0,5 persen dari harga produknya dan bersih dari biaya tambahan distribusi.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Evi Endri

Tags

Rekomendasi

Terkini

X