JAKARTA, RIAUSATU.COM - Harga minyak dunia anjlok sekitar 5 persen pada perdagangan awal Asia, Senin (27/7/2026), setelah Amerika Serikat (AS) dan Iran menghentikan sementara aksi saling serang selama akhir pekan.
Kondisi ini, seperti dilansir kompas.com, memunculkan harapan pasar bahwa konflik dapat diselesaikan melalui jalur diplomasi sehingga pengiriman minyak melalui Selat Hormuz kembali normal.
Sementara harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS turun 4,67 dollar AS atau 5,23 persen menjadi 84,64 dollar AS per barrel.
Kedua kontrak tersebut diperdagangkan pada level terendah dalam hampir sepekan setelah sebelumnya mencatat kenaikan selama tiga pekan berturut-turut.
Sebelumnya, harga minyak Brent sempat tembus 100 dollar AS per barrel pada perdagangan 23 Juli 2026, setelah memanasnya konflik AS-Iran yang mengganggu pengiriman minyak melalui Selat Hormuz.
Konflik juga meluas hingga Laut Merah, sehingga menghambat ekspor minyak Arab Saudi ke Asia melalui Selat Bab el-Mandeb.
Duta Besar AS untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Mike Waltz, mengatakan Presiden AS Donald Trump saat ini memutuskan menghentikan sementara serangan AS untuk memberikan lebih banyak waktu bagi upaya diplomasi.
"Kembali ke nota kesepahaman (MoU) 14 poin dengan kejelasan yang lebih baik mengenai pengendalian Selat Hormuz akan menjadi langkah awal yang baik," imbuhnya.
Meski serangan dihentikan sementara, aktivitas pelayaran di Selat Hormuz belum sepenuhnya pulih.
Data perusahaan pelacakan kapal Kpler menunjukkan kurang dari 10 kapal pengangkut komoditas melintasi selat tersebut setiap hari selama akhir pekan.
Selain itu, lalu lintas kapal di Selat Bab el-Mandeb juga menurun pada Minggu (26/7/2026) usai kelompok Houthi di Yaman menyerang fasilitas minyak Arab Saudi di pesisir Laut Merah.
Meski demikian, sebuah supertanker ketiga asal China dilaporkan berhasil keluar melalui jalur tersebut.
"Pemulihan arus pelayaran melalui Selat Hormuz kemungkinan akan berlangsung lambat dan hanya sebagian, karena banyak perusahaan pelayaran masih berhati-hati dan membutuhkan keyakinan lebih besar terhadap keamanan sebelum kembali mengirim lebih banyak kapal kosong ke selat tersebut," kata Analis MST Marquee, Saul Kavonic.***