"Kondisi fiskal yang sehat seharusnya ditandai keseimbangan primer yang positif,” kata Awalil.
Di sisi lain, risiko pembiayaan kembali meningkat karena rata-rata jatuh tempo utang pemerintah semakin pendek. Pada semester I-2025, rata-rata jatuh tempo tercatat 7,8 tahun, lebih pendek dibandingkan satu dekade lalu.
Ia juga menilai publik kerap disesatkan oleh angka pembiayaan utang neto. Pembiayaan utang Rp 736,3 triliun pada 2025 merupakan selisih antara utang baru dan pelunasan.
Jika pelunasan pokok sekitar Rp 800 triliun, maka utang baru yang sebenarnya ditarik pemerintah diperkirakan mencapai Rp 1.563 triliun.
“Kalau semua indikator ini dilihat bersama, kondisi utang pemerintah tidak bisa dibilang aman,” ujar Awalil.
Ia memperingatkan, risiko gagal bayar sebagian kewajiban utang terutama bunga pada 2026 tidak bisa diabaikan, dan kesinambungan fiskal jangka menengah hingga panjang kini berada dalam tekanan serius.***