Gen Z dan Investasi: Antara Analisis atau FOMO?

photo author
Daud Mahmud, Riau Satu
- Senin, 6 Juli 2026 | 11:13 WIB

Salah satu konsep utama dalam behavioral finance adalah loss aversion, yaitu kecenderungan seseorang merasakan kerugian lebih menyakitkan daripada kesenangan ketika memperoleh keuntungan dalam jumlah yang sama.

Dalam konteks investasi, perilaku ini terlihat ketika investor menahan saham yang terus turun karena tidak rela mengakui kerugian. Mereka berharap harga kembali naik, meskipun kondisi perusahaan atau pasar sudah berubah.

Sebaliknya, ketika memperoleh keuntungan kecil, investor sering menjual terlalu cepat karena takut keuntungan tersebut hilang.

Penelitian yang menjadi dasar artikel ini menunjukkan bahwa loss aversion, herding, dan FOMO berpengaruh positif dan signifikan terhadap keputusan investasi. Namun, FOMO tidak memediasi hubungan antara loss aversion dan keputusan investasi.

Artinya, rasa takut rugi tidak selalu lahir dari media sosial atau perilaku orang lain. Ia dapat muncul langsung dari pengalaman pribadi, kekhawatiran kehilangan modal, atau ketidakmampuan menerima kenyataan bahwa keputusan investasi sebelumnya keliru.

Berbeda dengan ketakutan rugi, herd behavior atau perilaku ikut-ikutan sangat dekat dengan kehidupan digital Gen Z.

Herding terjadi ketika seseorang mengikuti keputusan mayoritas tanpa melakukan analisis mandiri yang memadai. Ketika saham tertentu viral, aset kripto dibahas banyak akun, atau influencer menyebut peluang “seratus kali lipat”, banyak investor merasa bahwa keramaian tersebut adalah bukti kualitas aset.

Padahal, popularitas tidak selalu sama dengan nilai. Aset yang ramai dibicarakan belum tentu memiliki fundamental yang kuat. Harga yang naik cepat belum tentu mencerminkan prospek jangka panjang.

Euforia saham bank digital Indonesia pada periode 2021-2022 menjadi pelajaran penting. Ketika sentimen positif dan ekspektasi tinggi bertemu dengan arus informasi media sosial, harga beberapa saham melonjak tajam. Namun, ketika pasar mulai kembali menilai kinerja bisnis dan risiko secara lebih realistis, koreksi harga pun terjadi.

Di antara herding dan keputusan membeli, terdapat FOMO atau fear of missing out. FOMO adalah kecemasan bahwa orang lain sedang memperoleh peluang yang tidak kita dapatkan.

Ketika melihat teman mengunggah keuntungan, influencer memamerkan portofolio, atau komunitas ramai membahas aset tertentu, investor muda dapat merasa harus segera ikut.

Bukan karena benar-benar memahami aset tersebut, melainkan karena takut kehilangan kesempatan. Penelitian menunjukkan bahwa FOMO memediasi pengaruh herding terhadap keputusan investasi.

Kerumunan menciptakan tekanan sosial, lalu tekanan sosial berubah menjadi rasa takut tertinggal. Pada titik itu, keputusan membeli bukan lagi hasil analisis, melainkan reaksi emosional terhadap suasana pasar.

Masalahnya, media sosial jarang memperlihatkan cerita secara utuh. Kerugian tidak seviral keuntungan. Portofolio merah jarang dipamerkan.

Konten tentang analisis risiko, diversifikasi, dan investasi jangka panjang kalah menarik dibandingkan video tentang keuntungan instan.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Daud Mahmud

Rekomendasi

Terkini

Gen Z dan Investasi: Antara Analisis atau FOMO?

Senin, 6 Juli 2026 | 11:13 WIB
X