Mantan Ketum DPP KNPI ini menambahkan, Indonesia adalah bangsa yang berbeda-beda punya gagasan besar, mesti dirukunkan. Agar ada kerukunan meski tidak menonjolkan diri. Kata rukun masuk dalam struktur organisasi eksekutif terkecil Indonesia, Rukun Tetangga naik menjadi Rukun Warga. Karena kerukunan adalah asli warisan bangsa Indonesia.
"Dulu nenek moyang kita jago pada subkultur sebuah bangsa. Ujungnya semua dirukunkan oleh para ulama, yang tadinya strukturnya raja hamba, akhirnya dirubah menjadi setara dan sederajat," jelas Fahd.
Kehidupan antara raja dan hamba, dibuatkan satu sistem baru ditengah tengah. Namanya musyarokah, artinya hidup bersekutu secara bersama-sama, yang akhirnya diserap ke Bahasa Indonesia menjadi masyarakat.
Raja yang mutlak kekuasaannya dan hamba yang patuh kemutlakannya itu dilebur oleh bahasa Rasulullah kullukum roin wakullukum masulin ar roiyah, maka raja dan hamba menjadi kekuatan yang baru.
"Indonesia di Nusantara dengan sebutan roiyah, akhirnya diserap ke Bahasa Indonesia menjadi rakyat. Dan, satu-satunya bangsa muslim di dunia yang mengambil kalimat roiyah, hanya Indonesia," tukasnya.
Rembukan disebut musyawarah, ruang musyawarah namanya majelis. Ini bukan bahasa sembarangan, bahkan dikukuhkan menjadi bahasa konstitusi, yaitu Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR).
"Mari kita rawat perbedaan ini, jangan sampai tercerai berai. Apa pun agamamu, ada dalam lakum dinukum waliyadin . Apa pun perbedaan sukumu, ada dalam wajaalna suubawaqobaila litaarofu," imbuh Fahd.
Kita punya slogan wa tashimu bihablillahi jamiawalatafarroqu, berpeganglah pada tali Allah dan jangan lah kamu tercerai berai. "Makanya, kita rawat kebersamaan dengan cara bersama," tambahnya.
Beragamalah dengan baik, jaga kelangsungan manusia, dan tugas negara menjaga kebersamaan. Membentuk satu bangsa dalam satu negara adalah jaminan berlangsungnya manusia dan agama, kata Fahd.
"Manusia itu sudah baik. Kebaikan manusia dan sempurnanya agama tidak terjamin ketika tidak ada keamanan bangsa dan negara. Contohnya Suriah dan Iran, satu agama beda aliran, ribut dan akhirnya runtuh," ingatnya.
Ketika bangsa Indonesia merdeka banyak yang memikirkan kita ini harus berkiblat ke mana. Ada yang menawarkan berkiblat ke Eropa, dan dijawablah oleh pujangga Indonesia dalam Salah Asuhan apakah kita akan ikut dengan cara Belanda, seperti di film Tenggelamnya Kapal van Der Wijk.
Apakah bangsa Indonesia akan berkiblat ke Arab? Hamka menulis di bawah Lindungan Ka’bah. Apakah murni dengan cara Indonesia, Sutan Takdir Ali Syahbana pun menulis Siti Nurbaya.
Menurutnya, bangsa ini sudah terbiasa dalam perbedaan. Indonesia memang ditakdirkan ada di tengah-tengah. Ketika PKI ingin narik ke kiri, tapi tidak bisa. Kemudian, ada yang ingin tarik ke kanan, juga tidak bisa.
Mantan Ketum Gema MKGR ini mengapresiasi pembelajaran luar biasa dari dua negarawan, yakni Prabowo Subianto dan Joko Widodo. Setelah kontestasi politik yang begitu keras pada Pilpres 2019, tidak pernah terbayangkan demi bangsanya mereka bersatu bersama membangun bangsa Indonesia.
"Apa yang dilakukan dua tokoh ini adalah penyelesaian bangsa Indonesia, dan ini patut dicontoh oleh generasi selanjutnya," imbau Fahd.