Berita Korupsi Terkait Pembelian Pesawat Mirage Qatar, Yusril: Pembusukan Politik Jelang Pencoblosan

photo author
Novrizon Burman, Riau Satu
- Sabtu, 10 Februari 2024 | 11:13 WIB
Yusril Ihza Mahendra, Ketua Tim Pembela Prabowo-Gibran. (f: internet)
Yusril Ihza Mahendra, Ketua Tim Pembela Prabowo-Gibran. (f: internet)

PEKANBARU, RIAUSATU.COM – Ketua Tim Pembela Prabowo-Gibran, Yusril Ihza Mahendra, membantah seluruh isi pemberitaan Meta Nex yang berjudul "Indonesia Prabowo Subianto EU Corruption Investigation", edisi Jumat (9/2/2024).

Dalam pemberitaan itu, Menhan Prabowo Subianto disebut terlibat kasus dugaan korupsi dan penyuapan senilai 55,4 juta dolar AS atau sekitar Rp866,03 miliar terkait  pembelian 12 pesawat jet tempur Mirage 2000-5 bekas dari Pemerintah Qatar.

Uang itu disebut-sebut dijadikan modal Prabowo maju ke Pilpres 2024. Berita itu kemudian dikutip oleh berbagai media di Tanah Air.

"Berita tersebut adalah HOAX terbesar yang dilakukan media asing jelang pencoblosan tanggal 14 Februari. Berita hoax tersebut adalah sebuah pembusukan politik," tegas Yusril, dalam keterangan persnya, yang diterima redaksi media siber ini, barusan.

Ketua Umum DPP Partai Bulan Bintang itu menegaskan, pembelian pesawat bekas dengan Qatar itu tidak pernah dilaksanakan karena keterbatasan anggaran negara Indonesia.

"Meskipun perjanjian telah disapakati, namun Pemerintah RI tidak jadi membeli pesawat bekas tersebut. Tidak ada penalti apapun kepada Pemerintah RI akibat pembatalan itu," jelas Yusril.

Dia menambahkan, Pemerintah Qatar memang ingin Indonesia membeli pesawat bekas itu secara tunai, namun Indonesia ingin membelinya dengan cara utang.

"Sebab itu, kita menggunakan agen perusahaan dari Republik Czech. Namun karena keterbatasan anggaran kita, pembelian dengan cara utang itupun akhirnya tidak jadi dilaksanakan," ungkap Yusril.

Dia memastikan bahwa tidaklah benar kalau badan anti korupsi Uni Eropa melakukan investigasi terhadap Menhan RI Prabowo.

Berita ini, beber Yusril, didasarkan komunikasi antara badan anti korupsi itu dan Kedubes Amerika Serikat di Jakarta, yang tidak dapat diverifikasi kebenarannya.

Kalau investigasi itu ada, terang Yusril, maka pihak Qatar dan agen dari Czech juga akan lebih duluan diinvestigasi, tetapi hal itu tidak terjadi.

Menurutnya, penulis berita Jhon William dan media yang memberitakannya bukanlah media mainstream yang kredibilitas pemberitaannya dapat dipercaya.

"Buktinya, pemberitaan dari media mainstream di luar negeri, ternyata tidak ada," tukas Yusril.

Yusril mengimbau seluruh lapisan masyarakat Indonesia untuk tidak begitu saja memercayai berita yang sumbernya tidak kredibel.

Dia mengajak seluruh lapisan masyarakat agar tetap tenang dan tidak terpengaruh dengan pemberitaan-pemberitaan yang berisi pembusukan politik.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Novrizon Burman

Tags

Rekomendasi

Terkini

X