Terpantau 52 Titik Panas di Sumatera, Riau Sumbang 7 Titik

photo author
Redaktur, Riau Satu
- Sabtu, 6 Agustus 2016 | 19:50 WIB

PEKANBARU, RIAUSATU.COM-Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Pekanbaru menyebutkan  satelit mendeteksi 52 titik panas dengan tingkat kepercayaan atas kebakaran hutan dan lahan 50 persen berada di Sumatera.

''Sensor modis terpasang di satelit Terra maupun Aqua, sore ini terpantau total 52 titik panas di daratan Sumatera,'' kata Kepala Seksi Data dan Informasi BMKG Stasiun Pekanbaru, Slamet Riyadi di Pekanbaru, Jumat.     

Dia menjelaskan puluhan titik panas tersebut tersebar pada tujuh provinsi dari total 10 provinsi di pulau terbesar ketiga di Indonesia dengan luas 473.481 kilometer per segi.

Slamet merinci tujuh provinsi itu kali ini terkonsentrasi di Sumatera Barat terpantau 16 titik panas dan di Sumatera Selatan terdeteksi 14 titik panas.

Lalu Lampung menyumbang sembilan titik panas, di Riau sendiri memberi sumbangan tujuh titik, Bangka Belitung tiga titik, Bengkulu dua titik dan Sumatera Utara tercatat satu titik panas.

''Tujuh titik panas di Riau, terpantau satelit berada pada dua kecamatan di Kabupaten Kampar yakni tiga di XII Koto Kampar dan dua di Kampar Kiri,'' katanya, sebagaimana dilansir Antara.

Sisanya sebanyak dua titik panas lagi, lanjut dia, terdeteksi satelit berada di wilayah Kecamatan Singingi Hilir di Kabupaten Kuantan Singingi.

''Titik panas yang kemungkinan jadi titik api dengan tingkat kepercayaan di atas 70 persen atau berpotensi karlahut terjadi dua titik berada di XII Koto Kampar,' ucap Slamet.

Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan dilaporkan fokus memantau kawasan rawan kebakaran hutan dan lahan di lima kecamatan di Ogan Komering Ilir karena lokasi ini terbakar setiap tahun.

Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Sumatera Selatan Sigit Wibowo di mengatakan lima kecamatan itu adalah Pedamaran Timur, Cengal, Sungai Menang, Tulung Selapan, dan Air Sugihan.

''Berkat tingginya kewaspadaan di lokasi ini maka selama Juni hingga Juli diketahui bahwa jumlah titik panas (hotspot) menjadi jauh berkurang jika dibandingkan tahun lalu,'' kata dia.

Tim, ucapnya, sangat fokus mencegah munculnya titik api di tiga titik rawan yakni di kawasan Pantai Timur, Ogan Komering Ilir (OKI), perbatasan Banyuasin dan OKI, dan sebelah Utara dari Kabupaten Musi Banyuasin dengan luas areal sekitar 1,4 juta hektare.

Kawasan ini diperkirakan kelompok gambut dalam yang apabila terbakar maka sangat sulit untuk dipadamkan karena api menjalar dibawah tanah.

''Ini semua berdasarkan analisa mendalam bahwa sejak 2007, selalu saja tiga lokasi ini sebagai daerah pemproduksi asal (kebakaran, red). Sehingga pada tahun ini sangat diharamkan sekali kebakaran terjadi di tiga lokasi ini,'' terangnya.

Pemerintah Provinsi Riau sebelumnya telah memperpanjang status siaga darurat kebakaran lahan dan hutan yang berlaku enam bulan atau sejak Juni hingga 30 November 2016.

Komandan Satuan Tugas Karhutla Riau, Brigjen TNI Nurendi mengatakan perpanjangan status itu sebagai upaya untuk memaksimalkan pencegahan penanggulangan karhutla karena setiap tahun terus terjadi terutama dalam 18 tahun terakhir.

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Willem Rampangilei sebelumnya telah memerintahkan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) agar tetap meningkatkan pemadaman dan pencegahan kebakaran hutan dan lahan.

''Bagi masyarakat diimbau untuk tidak membakar, terutama saat membuka lahan. Sebab, dampak karhutla sangat luar biasa dan merugikan semua pihak. Pencegahan harus ditingkatkan karena lebih efektif daripada pemadaman,'' katanya. (dri)


Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Redaktur

Tags

Rekomendasi

Terkini

BMKG: Hujan Masih Berpotensi Mengguyur Riau

Selasa, 26 Mei 2026 | 11:05 WIB
X