JAKARTA, RIAUSATU.COM-Tanggal 2 Mei kemarin selalu dijadikan pemerintah sebagai Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas). Pada momen ini diharapkan banyak perubahan demi pendidikan lebih baik. Bukan hanya pendidikan, nasib kehidupan para guru dengan status honorer juga patut diperhatikan.
Duka lara menjadi guru honorer masih menjadi kenyataan pahit. Profesi berat sebagai penentu pencetak masa depan seolah tidak dihargai sebanding dengan pengabdiannya. Banyak para guru tidak punya penghasilan cukup meski menyebar ilmu tiada henti.
Kisah pahit sebagai guru honorer, di antaranya dirasakan Yustin Nirce Bansae. Guru honorer asal Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur, ini meski pintar-pintar mengatur pengeluaran. Menjadi guru honorer sejak 2011, dia bermimpi suatu hari profesinya mampu menyejahterakan kehidupannya.
Bayaran minim sebagai pemberi ilmu terus mengganggu pemikirannya. Namun, kondisi itu bisa terpatahkan dengan senyum semangat para anak didiknya saat menerima pelbagai ilmu darinya. Nirce kini menunggu janji manis Presiden Joko Widodo alias Jokowi, melaku Menteri Pendidikan Anis Basewedan.
''Secara khusus, secara pribadi saya sebagai seorang guru honorer, saya punya satu tekad bahwa menanam modal. Tentunya saya menanam modal itu pasti menyangkut dengan ilmu, ilmu bagi anak-anak yang ada. Itulah yang membuat walaupun honor dibayar tidak tepat, tapi tetap semangat karena melihat semangat anak-anak bagaimana mereka bisa cerdas, sehingga lingkungan itu merasa nyaman,'' kata Nirce ketika ditemui merdeka.com, Senin (2/5).
Guru honorer pada Sekolah Dasar Inpres Tarus 1, ditugaskan di kelas jauh Kelapa Tinggi, Kupang. Dia kini hanya pasrah dan menunggu realisasi uang tunjangan itu.
''Harapan saya itu, dengan memperingati kembali Hari Pendidikan Nasional ini, semangat guru-guru tetap, walaupun sebagai honor itu tetap mengajar sesuai dengan jadwal yang sudah diberikan. Dan juga pemerintah turut memperhatiakn nasib guru itu. Sehingga sama-sama bekerja sama untuk dapat mensejahterakan kehidupan anak bangsa,'' tambah Nirce.
Merasa bertanggung jawab terhadap para guru, pihak sekolah juga meminta kepada pemerintah pusat lebih memperhatikan nasib para guru honorer. Terutama bagi para gutu honorer, terpencil, khususnya di Kupang.
''Memang teman-teman guru honor itu juga, selalu mengharapkan realisasi daripada janji menteri. Jadi mereka harapkan dan mudah-mudahan ini juga jangan hanya sekedar janji tapi, bisa direalisasi dalam tahun 2016 ini,'' kata kepala sekolah SDI Tarus 1 Kupang, Origenes Lakalo.
Dengan semangat dan tanggung jawab terhadap kecerdasan generasi bangsa, mereka sebagai guru honorer yang selalu diberi janji bisa menjadi inspirasi bagi orang lain, bahwa mengabdi untuk bangsa tidak harus berharap untuk difasilitasi Negara. (dri)