Waryuni juga menyebutkan bahwa dugaan keracunan ini merupakan kejadian pertama sejak program MBG berjalan di sekolahnya.
Ia menduga kondisi kesehatan korban yang belum sepenuhnya pulih dari sakit juga bisa menjadi faktor yang memengaruhi.
“Anaknya memang baru sembuh dari sakit. Dua hari sebelumnya tidak masuk sekolah karena sakit,” ujarnya.
Ia berharap penyedia layanan MBG dapat terus memperbaiki kualitas menu dan pengelolaan makanan agar kejadian serupa tidak terulang.
“Semoga ke depan bisa diperbaiki lagi dan makanannya lebih baik,” kata Waryuni.
Sementara itu, Wakil Bupati Pemalang yang juga Ketua Satuan Tugas MBG Kabupaten Pemalang, Nurkholes, mengatakan pihak penyedia makanan telah mengakui adanya kesalahan teknis dalam proses pengolahan menu.
Menurut dia, salah satu masalah terjadi saat proses penyerutan buah yang digunakan untuk minuman es kuwut.
“Kesalahan yang mereka akui adalah teknis saat menyerut buah yang terlalu lama.
Padahal ada ketentuan maksimal empat jam. Ini yang kemudian salah perhitungan waktunya,” kata Nurkholes usai melakukan inspeksi mendadak di SPPG Pelita Prabu Bumirejo.
Ia menyatakan, pemerintah daerah telah memberikan teguran kepada pihak penyedia makanan.
Satgas MBG juga akan memperketat pengawasan terhadap proses penyediaan menu.
“Ini menjadi pembelajaran bagi kami. Satgas akan menggerakkan pemantauan mulai dari tingkat desa, kecamatan, hingga dinas terkait,” ujarnya. ***