Heboh Dugaan 4,9 Juta Data Nasabah BCA Bocor di Dark Web, Ini Penjelasan Bank

photo author
Novrizon Burman, Riau Satu
- Sabtu, 23 Mei 2026 | 08:36 WIB
Tangkapan layar terkait dugaan kasus kebocoran data nasabah di Mobile Banking BCA dalam forum Dark Web. (X.com/DailyDarkWeb)
Tangkapan layar terkait dugaan kasus kebocoran data nasabah di Mobile Banking BCA dalam forum Dark Web. (X.com/DailyDarkWeb)

JAKARTA, RIAUSATU.COM — Dugaan kebocoran jutaan data nasabah mobile banking milik Bank Central Asia atau BCA menghebohkan media sosial setelah muncul klaim penjualan data di forum jaringan gelap atau dark web.

Dalam unggahan yang beredar, disebutkan terdapat sekitar 4,9 juta data database serta 890.000 akses akun yang diduga terkait layanan BCA Mobile.

Isu tersebut pertama kali ramai diperbincangkan setelah akun X @DailyDarkWeb, Kamis (21/5/2026), mengunggah tangkapan layar forum dark web yang menampilkan tawaran dataset bertajuk “BCA Mobile Bank Access & Database”.

Unggahan itu langsung memicu kekhawatiran publik, terutama nasabah pengguna layanan mobile banking.

Dalam unggahan tersebut, penjual data diklaim menawarkan kumpulan data yang disebut berasal dari layanan mobile banking BCA dan menyasar nasabah perbankan di Indonesia.

“Pelaku mengiklankan dugaan kumpulan data yang berbasis dari mobile banking BCA yang menargetkan nasabah perbankan Indonesia,” demikian isi unggahan akun tersebut.

Penjual di forum itu juga disebut mengklaim memiliki sekitar 890.000 akses dan 4,9 juta data database yang diduga memuat informasi pribadi perbankan hingga sejumlah kolom internal.

Meski demikian, akun @DailyDarkWeb menegaskan bahwa informasi tersebut masih berupa dugaan dan belum dapat diverifikasi kebenarannya.

“Saat ini, klaim tersebut harus dianggap sebagai dugaan dan perlu diverifikasi,” tulis akun tersebut.

Ramainya isu itu segera memicu keresahan di kalangan pengguna layanan digital banking.

Sebab, dalam praktik kejahatan siber, istilah accesses sering dikaitkan dengan akses akun, kredensial login, maupun perangkat yang telah terinfeksi malware.

Jika benar terjadi, data semacam itu berpotensi disalahgunakan untuk pengambilalihan akun mobile banking, penipuan digital, hingga serangan penukaran kartu SIM atau SIM swap.

Selain itu, ancaman phishing dan social engineering juga dinilai meningkat ketika data pribadi pengguna tersebar di ruang siber ilegal.

“Indonesia sendiri kini menjadi target bagi para pelaku kejahatan siber,” tulis unggahan yang sama.

“Tingginya penggunaan mobile banking, fintech, dan pembayaran digital membuat negara ini rawan terhadap serangan siber,” lanjut unggahan tersebut.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Novrizon Burman

Tags

Rekomendasi

Terkini

Pasbar di Sumbar Diguncang Gempa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 11:40 WIB

Masih Dibuka, Rekrutmen Bintara PK Pria TNI AL

Jumat, 17 Juli 2026 | 16:25 WIB

BMKG: Waspada Hujan Lebat di Sebagian Besar Riau

Kamis, 16 Juli 2026 | 09:23 WIB

BMKG: Cuaca Riau Hari Ini Relatif Kondusif

Selasa, 14 Juli 2026 | 09:00 WIB
X