PEKANBARU, RIAUSATU.COM — Dugaan pencatutan nama mantan Wakil Ketua Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) RI, Hendra Susanto, dalam proses tender di lingkungan PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) menuai sorotan dari kalangan internal industri migas.
Seorang petinggi perusahaan migas di bawah naungan Pertamina menyebut praktik tersebut sebagai sesuatu yang “akhirnya terungkap”.
“Akhirnya ketahuan juga ya, saya pernah dengar-dengar nama ini,” ujar petinggi migas tersebut dalam pesan WhatsApp kepada Riausatu.com.
Ia menilai, dugaan pencatutan nama pejabat negara dalam proses pengadaan proyek merupakan persoalan serius yang dapat merusak tata kelola sektor energi dan kredibiltas lembaga pemeriksa itu sendiri.
Karena itu, menurut dia, diperlukan pembenahan menyeluruh, termasuk di lingkungan auditor negara.
Setelah yang bersangkutan tidak menjabat sebagai Wakil Ketua BPK, pimpinan AKN VII banyak melakukan pergantian pejabat lama di AKN VII.
"Makanya dengan anggota yang sekarang, semua pejabat BPK di lingkungan AKN VII dari eselon 1 sampai bawah 'dibersihin' atau diganti semua," bebernya.
BERITA TERKAIT:
Isu ini mencuat setelah Hendra Susanto mengakui bahwa namanya kerap dicatut atau “dijual” oleh pihak tertentu untuk kepentingan pribadi, termasuk dalam proses tender proyek di sektor migas yang melibatkan Pertamina dan SKK Migas.
“Terima kasih atas konfirmasinya. Nama saya sering digunakan oleh oknum tertentu untuk kepentingan pribadi mereka,” kata Hendra Susanto saat dikonfirmasi Riausatu.com, pada Sabtu, 2 Mei 2026.
Ia menegaskan tidak memiliki keterlibatan dalam proses pemenangan proyek mana pun.
Hendra Susanto yang kini menjabat Direktur Keuangan di Perum Bulog juga meminta agar setiap upaya pencatutan nama dilaporkan kepada aparat penegak hukum.
“Kalau ada yang menjual nama saya, mohon diabaikan saja,” ujarnya.
BERITA SEBELUMNYA: