Raine Renaldi Jadi Narasumber CNA Summit 2026, Dorong Smart City dan Konversi Kendaraan Listrik Lewat Program EV-GO

photo author
Evi Endri, Riau Satu
- Selasa, 10 Februari 2026 | 15:09 WIB
Raine Renaldi, S.IIP., AWP tampil sebagai salah satu narasumber dalam sesi live news CNA Summit 2026. (f: ist)
Raine Renaldi, S.IIP., AWP tampil sebagai salah satu narasumber dalam sesi live news CNA Summit 2026. (f: ist)

 

JAKARTA, RIAUSATU.COM  - Raine Renaldi, S.IIP., AWP tampil sebagai salah satu narasumber dalam sesi live news CNA Summit 2026 yang disiarkan melalui platform dan kanal digital resmi Channel NewsAsia (CNA), termasuk kanal YouTube resminya. 

Kehadiran Raine mewakili kapasitasnya sebagai Ketua Asosiasi Provider Smart City (APSI) Indonesia, sekaligus memperkuat peran Indonesia dalam diskursus regional mengenai investasi, inovasi, dan pembangunan berkelanjutan.

CNA Summit 2026 merupakan forum tingkat regional yang mempertemukan para pemimpin industri, pengambil kebijakan, serta investor global untuk membahas arah investasi dan inovasi di tengah transformasi ekonomi dunia. 

Forum prestisius ini juga menghadirkan pembicara utama setingkat menteri dan pimpinan lembaga investasi internasional, di antaranya Rosan Perkasa Roeslani, Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Republik Indonesia sekaligus CEO Danantara Indonesia, Rohit Sipahimalani, Direktur Investasi Temasek, serta Hisham Hamdan, Direktur Investasi Khazanah Nasional.

Mengusung tema “Smart Growth: Navigating Investment and Innovation in a New Era”, CNA Summit 2026 menyoroti strategi pertumbuhan cerdas di tengah dinamika geopolitik global, perubahan arus modal, percepatan adopsi teknologi digital dan kecerdasan buatan (AI), serta pentingnya menjaga kepercayaan publik dan keberlanjutan jangka panjang.

Dalam paparannya, Raine Renaldi menegaskan bahwa konsep Smart City harus dipahami sebagai kerangka strategis yang menghubungkan investasi, teknologi, dan kebutuhan nyata masyarakat, bukan sekadar proyek teknologi semata.

“Smart City bukan hanya proyek teknologi, tetapi kerangka pertumbuhan baru yang menghubungkan investasi, inovasi, dan kebutuhan nyata masyarakat. Kunci keberhasilannya ada pada kolaborasi ekosistem - pemerintah, penyedia teknologi, investor, dan operator - agar setiap inisiatif menjadi investment-ready dan berdampak langsung,” ujar Raine, dalam rilis yang diterima riausatu.com.

Raine juga menyoroti urgensi percepatan transformasi kendaraan menuju teknologi ramah lingkungan sebagai bagian integral dari agenda pertumbuhan berkelanjutan, khususnya dalam konteks mobilitas perkotaan.

“Dukungan pemerintah dalam program transformasi kendaraan menuju kendaraan ramah lingkungan menjadi faktor kunci percepatan adopsi. Tanpa kebijakan yang konsisten, insentif yang tepat, dan keberpihakan pada ekosistem, transisi ke mobilitas hijau akan berjalan lebih lambat dari yang dibutuhkan,” tegasnya.

Menurut Raine, Indonesia memiliki karakteristik unik dalam proses transisi kendaraan karena besarnya populasi kendaraan dan budaya penggunaan jangka panjang.

“Indonesia tidak memiliki kultur membuang kendaraan. Dengan jumlah kendaraan yang saat ini telah mencapai sekitar 178 juta unit, pendekatan yang paling realistis adalah melakukan konversi sebagian kendaraan menjadi kendaraan listrik, bukan semata mengganti dengan unit baru,” jelasnya.

Pendekatan konversi tersebut, lanjut Raine, menjadi tantangan sekaligus peluang besar bagi Indonesia, baik dari sisi industri, lingkungan, maupun penciptaan ekosistem ekonomi baru.

“Ini menjadi tantangan tersendiri bagi Indonesia. Karena itu kami sedang menggalakkan program konversi melalui proyek EV-GO sebagai salah satu model percepatan transisi kendaraan ramah lingkungan yang lebih terjangkau dan aplikatif,” tambahnya.

Raine juga menilai dukungan kebijakan pemerintah Indonesia saat ini menunjukkan arah yang semakin positif, terutama dalam mendorong investasi dan pengembangan industri kendaraan listrik nasional.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Evi Endri

Rekomendasi

Terkini

X