Sinkhole Muncul di Sumbar, Ini Kata Pakar Geologi UGM

photo author
Evi Endri, Riau Satu
- Kamis, 8 Januari 2026 | 21:03 WIB
Lubang besar di Limapuluh Kota, Minggu (4/1/2025). (f: BPBD Limapuluh Kota/kompas.com)
Lubang besar di Limapuluh Kota, Minggu (4/1/2025). (f: BPBD Limapuluh Kota/kompas.com)

PADANG, RIAUSATU.COM - Sumatera Barat belum benar-benar selesai menghadapi rangkaian musibah hidrometeorologi, ketika bencana lain datang dari arah yang sama sekali berbeda: dari dalam bumi.

Pada Jumat (4/1), seperti dilansir kompas.com, tanah di kawasan persawahan Jorong Tepi, Nagari Situjuah Batua, Kabupaten Lima Puluh Kota, tiba-tiba ambles dan membentuk sinkhole atau lubang amblas berukuran besar.

Diameter lubang misterius itu tercatat lebih dari 10 meter, dan para ahli mengingatkan ukuran tersebut masih mungkin bertambah, baik melebar maupun semakin dalam.

Sinkhole sendiri merupakan fenomena geologi yang terjadi ketika lapisan batuan atau tanah di bawah permukaan yang berperan sebagai penyangga tiba-tiba runtuh atau terkikis.

Akibatnya, material di atasnya kehilangan fondasi dan jatuh ke ruang kosong yang terbentuk di bawah tanah.

Secara kasat mata, sinkhole kerap terlihat seperti cekungan besar menyerupai piring yang mendadak muncul di tanah yang sebelumnya tampak normal.

Karena terbentuknya bisa sangat cepat, fenomena ini sering memunculkan kepanikan di masyarakat, apalagi jika terjadi di dekat permukiman atau area produktif seperti lahan pertanian.


Dosen Teknik Geologi Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Dr. Eng. Ir. Wahyu Wilopo, menjelaskan bahwa sinkhole di Sumatera Barat sangat mungkin dipicu oleh kombinasi beberapa faktor sekaligus.

Ia menyebutkan adanya proses pelarutan batu gamping, erosi material yang sudah lapuk, serta curah hujan tinggi sebagai rangkaian penyebab yang saling memperkuat.

Dalam keterangannya di Kampus UGM pada Rabu (7/1), Wahyu menyoroti peran Siklon Senyar yang terjadi pada akhir November 2025.

Menurutnya, siklon tersebut memicu curah hujan melimpah, sehingga mempercepat proses yang berlangsung di bawah tanah, terutama di wilayah yang secara geologi rentan.

Wahyu menjelaskan bahwa sinkhole tidak bisa muncul di semua jenis tanah. Fenomena ini lebih sering terjadi di kawasan tertentu, terutama wilayah karst yang didominasi batu gamping atau batu kapur.

Pada kawasan karst, air hujan yang meresap ke dalam tanah dapat melarutkan batuan secara perlahan.

Proses pelarutan itu membentuk rongga-rongga di bawah permukaan. Ketika rongga semakin besar dan tidak lagi mampu menyangga beban tanah di atasnya, permukaan tanah dapat amblas secara tiba-tiba.

Selain karst, sinkhole juga bisa terjadi di tanah yang berongga. Rongga tersebut dapat terbentuk secara alami, misalnya akibat adanya gua bawah tanah, namun bisa juga dipicu aktivitas manusia seperti pertambangan.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Evi Endri

Tags

Rekomendasi

Terkini

Pasbar di Sumbar Diguncang Gempa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 11:40 WIB

Masih Dibuka, Rekrutmen Bintara PK Pria TNI AL

Jumat, 17 Juli 2026 | 16:25 WIB

BMKG: Waspada Hujan Lebat di Sebagian Besar Riau

Kamis, 16 Juli 2026 | 09:23 WIB

BMKG: Cuaca Riau Hari Ini Relatif Kondusif

Selasa, 14 Juli 2026 | 09:00 WIB
X